HOME  ⁄  Pertambangan

Ekonom Mendorong Indonesia Fokus pada Mineral Kritis Unggulan untuk Perkuat Posisi di Pasar Global

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Ekonom Mendorong Indonesia Fokus pada Mineral Kritis Unggulan untuk Perkuat Posisi di Pasar Global
Foto: (Sumber :Foto udara pekerja mengoperasikan alat berat di Smelter PT VDNI di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Jumat (16/1/2026). ANTARA FOTO/Andry Denisah/agr/pri.)

Pantau - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mendorong Indonesia fokus mengembangkan rantai nilai mineral kritis yang menjadi kekuatan nasional, terutama nikel, timah, tembaga, dan kobalt, untuk menangkap peluang pasar global termasuk dari Amerika Serikat (AS).

Mineral tersebut memiliki peran penting dalam industri elektrifikasi, jaringan listrik, baterai, elektronik, hingga manufaktur berteknologi tinggi.

"Indonesia tidak perlu mempunyai seluruh critical minerals dunia untuk menjadi relevan. Kita perlu fokus pada mineral yang memang menjadi kekuatan kita dan membuat posisi Indonesia pada rantai nilainya semakin sulit digantikan," ujar Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026.

Menurut Fakhrul, kepemilikan sumber daya mineral strategis harus diikuti pengembangan industri dan teknologi agar memberikan manfaat ekonomi lebih besar.

"Memiliki mineral strategis tidak otomatis membuat sebuah negara menjadi strategis. Yang menentukan adalah seberapa jauh mineral tersebut dapat diterjemahkan menjadi kapasitas industri, teknologi, lapangan pekerjaan dan bargaining power ekonomi," kata dia.

Fakhrul menilai penguatan rantai pasok mineral kritis oleh AS menunjukkan perubahan penting dalam kebijakan ekonomi global yang dapat menjadi peluang bagi Indonesia.

Pemerintah AS disebut menyiapkan sekitar 3 miliar dolar AS untuk membiayai proyek pertambangan dan pengolahan mineral kritis serta bahan baku baterai guna memperkuat rantai pasok industri pertahanan.

Indonesia dinilai perlu bergerak dari sekadar memproses mineral sebelum ekspor menuju rantai nilai yang lebih dalam, mulai dari pemurnian, material maju, komponen, manufaktur, hingga teknologi.

Fakhrul menyebut kepastian dan konsistensi regulasi, terutama terkait perizinan, produksi, serta rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB), perlu dijadikan keunggulan kompetitif untuk menarik investasi jangka panjang.

"Indonesia sudah mempunyai geological certainty. Sekarang regulatory certainty harus kita jadikan keunggulan kompetitif," ujar Fakhrul.

Pemerintah juga dinilai perlu menjaga keseimbangan antara penerimaan negara, pembangunan industri, keberlanjutan lingkungan, dan daya tarik investasi melalui pengelolaan royalti, PNBP, devisa hasil ekspor (DHE), serta kewajiban domestik secara terpadu.

"Kita tidak harus memilih antara penerimaan negara dan investasi. Kebijakan yang baik membuat investasi bertambah, industri semakin dalam, dan pada akhirnya basis penerimaan negara justru semakin besar," katanya menjelaskan.

Fakhrul menilai Indonesia perlu memperpanjang rantai nilai domestik pada mineral yang telah menjadi keunggulan nasional agar manfaat ekonominya tidak berhenti pada kegiatan pertambangan dan pengolahan awal.

Nikel dapat dikembangkan menuju material maju dan berbagai industri turunannya, sedangkan tembaga serta timah dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan elektrifikasi, jaringan listrik, elektronik, dan manufaktur bernilai tambah tinggi.

"Nilai terbesar sebuah mineral tidak selalu berada di tempat ia digali. Nilai terbesar muncul ketika mineral bertemu dengan pengetahuan, engineering, teknologi dan manufaktur," kata dia.

Menurut Fakhrul, investasi asing juga tidak cukup dinilai berdasarkan besarnya modal yang masuk, tetapi perlu dilihat dari kemampuan ekonomi, industri, dan teknologi baru yang berhasil diciptakan di Indonesia.

"Kita tidak hanya membutuhkan investasi yang menambah kapasitas. Kita membutuhkan investasi yang menambah kemampuan," kata Fakhrul menambahkan.

Penulis :
Ahmad Yusuf