
Pantau - Partai-partai Arab mencatat peningkatan perolehan suara dalam Pemilu Legislatif Israel pada 27 Oktober 2026 setelah tingkat partisipasi pemilih dari komunitas Arab mencapai 80 persen, melampaui partisipasi nasional sebesar 77,9 persen.
Lonjakan partisipasi tersebut membuat partai-partai Arab memperoleh 14,72 persen suara atau setara dengan 19 kursi di parlemen Israel, Knesset.
Dari jumlah tersebut, aliansi partai-partai Arab Joint List meraih 11 kursi, sedangkan Partai Ra'am mendapatkan delapan kursi.
Perolehan tersebut meningkat sembilan kursi dibandingkan pemilu sebelumnya dan turut mengubah peta kekuatan politik Israel, terutama dalam persaingan antara blok sayap kanan pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan kelompok oposisi.
Peningkatan partisipasi pemilih Arab juga menjadi perhatian karena untuk pertama kalinya tingkat kehadiran mereka melampaui angka partisipasi nasional dalam pemilu tersebut.
Partisipasi Pemilih Arab Israel Capai Rekor 80 Persen
Tingginya partisipasi masyarakat Arab dalam Pemilu Israel 2026 menjadi salah satu faktor utama peningkatan perolehan suara partai-partai yang mewakili komunitas tersebut.
Wartawan Israel keturunan Arab-Palestina, Baker Zoubi, mengungkapkan adanya perubahan sikap masyarakat Arab menjelang pemungutan suara pada 27 Oktober.
Zoubi yang telah menjadi wartawan sejak 2010, termasuk untuk media independen +972 Magazine, mengaku rutin menanyakan kesediaan warga Arab untuk menggunakan hak pilih dalam setiap penyelenggaraan pemilu.
Pada pemilu-pemilu sebelumnya, Zoubi kerap mendapatkan jawaban yang menunjukkan ketidakpercayaan terhadap proses politik.
"enggak ada yang layak dipilih," menjadi salah satu jawaban yang sering diterimanya dari warga Arab yang enggan berpartisipasi dalam pemilu.
Sebagian lainnya menyampaikan kekecewaan terhadap wakil politik mereka dengan mengatakan, "mereka sudah mengecewakan kita".
Ada pula warga yang mempertanyakan manfaat pemungutan suara dengan mengatakan, "Apa bedanya? Tokh negara akan tetap melakukan apa yang mereka mau."
Namun, situasi tersebut berubah menjelang Pemilu Israel pada 27 Oktober 2026 ketika warga Arab menunjukkan keinginan lebih besar untuk berpartisipasi.
Selama dua pekan sebelum pemungutan suara, Zoubi mengaku mendapatkan jawaban berbeda dari masyarakat yang ditemuinya.
"Ya, pasti saya mencoblos," demikian jawaban yang diterima Zoubi dari warga yang ditanyainya menjelang pemilu.
Perubahan sikap tersebut kemudian terlihat dalam hasil pemungutan suara yang mencatat tingkat partisipasi pemilih Arab mencapai 80 persen.
Angka tersebut melampaui tingkat partisipasi nasional Israel sebesar 77,9 persen yang juga tercatat sebagai rekor tertinggi dalam sejarah pemilu negara itu.
Penolakan terhadap Netanyahu dan Kelompok Sayap Kanan Dorong Pemilih Arab
Peningkatan partisipasi pemilih Arab juga berkaitan dengan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pemerintahan kelompok sayap kanan Israel.
Tokoh-tokoh politik seperti Benjamin Netanyahu, Itamar Ben Gvir, dan Bezalel Smotrich menjadi perhatian dalam dinamika politik yang memengaruhi keputusan sebagian pemilih Arab.
Dalam telaah yang diterbitkan ANTARA, kekhawatiran terhadap masa depan komunitas Arab di bawah pemerintahan tokoh-tokoh tersebut disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat menggunakan hak pilih.
Keinginan untuk memengaruhi arah pemerintahan melalui pemilu membuat sebagian warga yang sebelumnya tidak tertarik berpartisipasi akhirnya mendatangi tempat pemungutan suara.
Selain faktor politik nasional, peningkatan partisipasi juga didorong kegiatan kampanye yang dilakukan para calon anggota parlemen dari komunitas Arab.
Para aktivis dan penyelenggara kampanye turut melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam proses pemungutan suara selama beberapa bulan menjelang pemilu.
Upaya tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah pemilih Arab yang menggunakan hak suaranya dalam pemilu legislatif.
Joint List dan Ra'am Raih Total 19 Kursi Parlemen Israel
Besarnya partisipasi pemilih Arab memberikan dampak langsung terhadap perolehan kursi partai-partai yang mewakili komunitas tersebut di Knesset.
Aliansi Joint List berhasil memperoleh 11 kursi, sementara Partai Ra'am mengamankan delapan kursi.
Secara keseluruhan, kedua kekuatan politik tersebut mengumpulkan 19 kursi atau meningkat sembilan kursi dibandingkan hasil pemilu sebelumnya.
Perolehan tersebut menjadi perkembangan penting dalam komposisi parlemen Israel setelah pemungutan suara pada 27 Oktober 2026.
Hasil pemilu juga menunjukkan berkurangnya dukungan terhadap koalisi pemerintahan Netanyahu dibandingkan kekuatan oposisi.
Bertambahnya kursi partai-partai Arab turut memengaruhi perhitungan kekuatan politik dalam pembentukan pemerintahan setelah pemilu.
Komunitas Arab Mencakup 21 Persen Penduduk Israel
Komunitas Arab merupakan salah satu kelompok minoritas terbesar di Israel dengan jumlah penduduk sekitar 2,16 juta jiwa.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 21 persen dari total penduduk Israel yang mencapai 10,2 juta jiwa.
Sementara itu, penduduk Yahudi berjumlah sekitar 7,97 juta jiwa atau hampir tiga kali lipat jumlah warga Arab.
Masyarakat Arab Israel terdiri atas berbagai kelompok agama, termasuk Islam, Kristen, dan Druze.
Besarnya jumlah penduduk tersebut menjadikan partisipasi politik komunitas Arab sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi hasil pemilihan legislatif.
Dalam Pemilu Israel 2026, peningkatan jumlah pemilih Arab yang datang ke tempat pemungutan suara terbukti berkaitan dengan bertambahnya kursi partai-partai Arab di parlemen.
Perolehan 19 kursi tersebut memperkuat keterwakilan politik komunitas Arab sekaligus menambah dinamika persaingan antara kelompok oposisi dan blok politik pendukung Netanyahu.
- Penulis :
- Gerry Eka




