HOME  ⁄  Sepakbola

Aturan Sepak Bola Dinilai Tidak Semestinya Tunduk pada Kepentingan Kekuasaan Hegemonik

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Aturan Sepak Bola Dinilai Tidak Semestinya Tunduk pada Kepentingan Kekuasaan Hegemonik
Foto: (Sumber :Pemain timnas Belgia Romelu Lukaku (paling kiri) mencetak gol saat pertandingan babak 16 besar antara Amerika Serikat dan Belgia di Piala Dunia FIFA 2026 di Stadion Seattle di Seattle, Amerika Serikat, 6 Juli 2026. ANTARA/Xinhua/Xu Chang..)

Pantau - Sebuah pandangan yang dipublikasikan Xinhua menilai aturan dalam sepak bola maupun sistem internasional tidak seharusnya tunduk pada kepentingan kekuasaan hegemonik, menyusul sorotan terhadap upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump memengaruhi ajang olahraga internasional.

Tulisan tersebut menyebut aturan memperoleh legitimasi melalui konsistensi dan penerapan yang tidak memihak, bukan karena pengaruh pihak tertentu yang berupaya memperoleh pengecualian.

Soroti Standar Ganda dalam Penerapan Aturan

Menurut pandangan tersebut, keputusan yang dibentuk oleh tekanan politik, bukan prosedur yang telah ditetapkan, berpotensi mengikis kepercayaan terhadap sistem secara keseluruhan.

Xinhua menilai pola tersebut tidak hanya terjadi di dunia olahraga, tetapi juga dalam berbagai aspek hubungan internasional.

Disebutkan bahwa Amerika Serikat selama ini mengklaim sebagai penjaga tatanan internasional berbasis aturan, namun dinilai menerapkan standar yang berbeda ketika aturan tersebut tidak sejalan dengan kepentingannya.

Tulisan itu juga menyoroti kebijakan Amerika Serikat yang disebut menegakkan aturan ketika menguntungkan, tetapi meminta pengecualian, mengubah ketentuan, atau mengabaikan sistem ketika aturan dianggap menjadi hambatan.

Kredibilitas Sistem Bergantung pada Penerapan yang Adil

Pandangan tersebut menilai tindakan seperti melemahkan mekanisme penyelesaian sengketa Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO), penerapan tarif sepihak, serta sanksi ekstrateritorial di luar kerangka multilateral menjadi contoh penerapan aturan yang dinilai selektif.

Xinhua menegaskan bahwa tatanan dunia tidak dapat bertahan apabila negara-negara kuat merasa berhak membengkokkan atau mengabaikan aturan sesuai kepentingannya.

Menurut pandangan itu, kredibilitas suatu sistem bergantung pada penerapan prinsip-prinsip secara adil kepada seluruh pihak, bukan pada besarnya pengaruh negara tertentu.

Tulisan tersebut menutup dengan penegasan bahwa aturan hanya memiliki makna apabila ditegakkan secara adil, karena ketika pengecualian menjadi hak istimewa bagi aktor hegemonik, sistem berbasis aturan akan berubah menjadi sistem yang ditentukan oleh kekuatan semata.

Penulis :
Aditya Yohan