
Pantau - Fortinet menilai meningkatnya ancaman siber berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta kompleksitas sistem keamanan digital menjadi tantangan utama bagi organisasi di Indonesia.
Country Director Fortinet Indonesia Edwin Lim mengatakan banyak perusahaan masih menggunakan berbagai solusi keamanan siber secara terpisah sehingga menyulitkan pengelolaan keamanan secara menyeluruh.
“Dulu implementasi keamanan siber banyak dilakukan secara silo. Kalau butuh perlindungan email beli satu produk, butuh firewall beli lagi produk lain, butuh endpoint beli lagi merek berbeda. Lama-lama perusahaan memiliki terlalu banyak tools yang sulit dipelajari dan dioperasikan,” ujar Edwin Lim.
Menurut Edwin, kondisi tersebut membuat organisasi kesulitan mendeteksi dan merespons ancaman siber secara cepat di tengah meningkatnya jumlah serangan dan volume peringatan keamanan.
Kompleksitas Sistem Jadi Tantangan Utama
Berdasarkan studi terbaru Fortinet bersama Forrester Consulting, sebanyak 64 persen organisasi di kawasan Asia Pasifik menilai kompleksitas tools dan arsitektur keamanan menjadi tantangan utama operasional keamanan siber.
Sebanyak 46 persen organisasi juga mengaku kewalahan menghadapi volume alert keamanan yang terlalu besar.
Sementara itu, 43 persen organisasi masih mengandalkan proses manual dalam penanganan ancaman dan insiden keamanan siber.
Edwin mengatakan tren industri kini mulai bergeser menuju pendekatan keamanan berbasis platform yang lebih terintegrasi.
“Sekarang arah industri sudah berubah ke platform. Gartner dan IDC juga mulai merekomendasikan konsolidasi supaya perusahaan tidak lagi memakai terlalu banyak vendor. Dengan platform yang lebih terintegrasi, pengelolaan jadi lebih sederhana dan investasi yang sudah ada juga bisa dimaksimalkan,” katanya.
Fortinet mencatat saat ini baru sekitar 29 persen organisasi yang telah mengoperasikan platform keamanan terpadu.
Namun, angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 60 persen dalam kurun 12 hingga 24 bulan mendatang.
Ancaman AI Dinilai Semakin Meningkat
Fortinet juga menyoroti meningkatnya ancaman siber berbasis AI yang kini dimanfaatkan pelaku kejahatan digital untuk mempercepat serangan.
Studi tersebut menunjukkan sebanyak 69 persen organisasi mengaku khawatir terhadap ancaman berbasis AI.
“AI sekarang bukan hanya dipakai perusahaan, tapi juga digunakan pelaku ancaman untuk mempercepat serangan. Karena itu, organisasi perlu memiliki kemampuan deteksi dan respons yang juga lebih cepat dan otomatis,” ungkap Edwin.
Di sisi lain, AI juga mulai digunakan untuk membantu operasional keamanan siber, termasuk memprioritaskan alert, menangani insiden, dan meningkatkan efisiensi operasional.
VP of Marketing and Communications APAC Fortinet Rashish Pandey mengatakan penerapan AI membutuhkan sistem keamanan yang saling terintegrasi.
“AI membutuhkan data yang terhubung dan visibilitas yang menyeluruh. Tanpa integrasi, AI justru berisiko memperbesar kompleksitas dan menambah tantangan baru bagi tim keamanan,” kata Rashish Pandey.
Fortinet menilai kebutuhan terhadap sistem keamanan siber yang lebih terintegrasi, otomatis, dan berbasis AI akan terus meningkat seiring percepatan transformasi digital di Indonesia.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





