HOME  ⁄  Teknologi & Sains

BRIN Kembangkan Metode “Phantom” untuk Perkuat Standardisasi Iradiasi Buah Ekspor

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

BRIN Kembangkan Metode “Phantom” untuk Perkuat Standardisasi Iradiasi Buah Ekspor
Foto: (Sumber : Dokumentasi proses iradiasi dengan metode phantom mangga ANTARA/HO-BRIN.)

Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan metode iradiasi berbasis phantom atau material pengganti buah guna memperkuat standardisasi iradiasi fitosanitari pada komoditas mangga varietas gedong untuk kebutuhan ekspor.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi dan Mutu Nuklir (PR-TKMMN) BRIN Okky Agassy Firmansyah mengatakan phantom mangga dikembangkan sebagai media representatif pengukuran dosis radiasi pada tahap pra-iradiasi dan pengendalian mutu.

“Phantom ini merupakan buah buatan yang dirancang agar memiliki karakteristik serapan radiasi yang mendekati buah mangga asli. Dengan demikian, proses audit, pemetaan dosis, dan pengujian iradiasi pada fasilitas tetap dapat dilakukan meskipun buah segar tidak tersedia, terutama pada saat mangga sedang tidak musim panen,” kata Okky dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Dukung Standar Ekspor Buah Segar

Okky menjelaskan iradiasi fitosanitari menjadi salah satu metode karantina untuk memastikan buah ekspor bebas dari organisme pengganggu tumbuhan seperti lalat buah, penggerek biji mangga, ulat red banded mango caterpillar, dan kutu putih.

Menurut dia, negara tujuan ekspor menerapkan standar ketat agar hama dari negara asal tidak masuk dan mengganggu sektor pertanian domestik mereka.

“Inovasi ini diharapkan dapat memperkuat sistem jaminan mutu ekspor buah Indonesia, khususnya dalam memenuhi persyaratan negara tujuan ekspor produk segar seperti Australia,” ujarnya.

Dalam proses iradiasi, fasilitas diwajibkan memastikan seluruh bagian buah menerima dosis minimum 400 Gray (Gy) dan tidak melebihi 1.000 Gy agar hama dapat dimitigasi tanpa merusak kualitas buah.

Gunakan Teknologi 3D Printing

BRIN mengembangkan phantom mangga menggunakan material resin cair berbasis teknologi 3D printing dengan pendekatan kesetaraan karakteristik interaksi radiasi antara material phantom dan buah asli.

Tim peneliti melakukan pengukuran dosis pada tiga titik representatif di dalam buah, yakni bagian permukaan, tengah, dan bawah.

“Hasil pengujian menunjukkan bahwa perbedaan hasil dosimetri antara mangga gedong asli dan phantom hanya sekitar 2 persen pada iradiasi gamma. Nilai tersebut masih berada dalam rentang keberterimaan, sehingga phantom dapat digunakan sebagai representasi mangga asli untuk pengujian dosis,” ungkap Okky.

Hasil riset tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Radiation Physics and Chemistry dengan judul Development and characterization of a 3D-printed Gedong mango phantom for dose measurement in gamma ray phytosanitary irradiation.

Selain itu, inovasi phantom mangga juga telah memperoleh perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dengan nomor pencatatan ciptaan 000845287.

Ke depan, BRIN akan melanjutkan pengembangan riset untuk pengujian pada modalitas radiasi lain seperti electron beam karena karakteristik interaksi radiasi berbeda antara radiasi gamma dan elektron.

Penulis :
Aditya Yohan