
Pantau - Perusahaan diagnostik berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) asal Taiwan, Acer Medical Inc., melihat Indonesia sebagai pasar potensial penerapan teknologi AI kesehatan karena besarnya populasi dan banyaknya masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil.
Chairman sekaligus CEO Acer Medical Inc. Allen Chia En Lien menilai teknologi AI dapat membantu memperluas akses layanan kesehatan sekaligus menjadikan Indonesia sebagai pintu masuk pengembangan pasar di kawasan ASEAN.
“Indonesia adalah pasar yang sangat besar dan ada begitu banyak orang. Dan ada banyak orang yang tinggal di pulau-pulau terpencil, jadi saya pikir masuk akal jika kita menerapkan AI untuk membantu,” ujar Allen dalam pertemuan dengan delegasi media di Kantor Acer Medical Inc., Kota New Taipei, Sabtu.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam kerangka Kebijakan Baru ke Arah Selatan atau New Southbound Policy (NSP) Taiwan.
AI Dinilai Berpotensi Mendukung Berbagai Layanan Kesehatan
Allen menyebut sejumlah bidang kesehatan berpotensi didukung teknologi AI, mulai dari diabetes, penyakit terkait proses penuaan, glaukoma, hingga gangguan pergerakan.
“Saya pikir dasarnya adalah diabetes, penyakit yang berkaitan dengan proses penuaan, glaukoma, dan juga masalah pergerakan. Dan kami akan mencari mitra untuk promosi kesehatan,” tuturnya.
Acer Medical membutuhkan mitra, termasuk distributor, untuk memasuki dan mengembangkan pasar baru.
“Kami sebenarnya lebih banyak berada di ASEAN. Kami belum masuk ke Eropa atau Amerika Serikat,” katanya.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mengatakan teknologi AI dapat meningkatkan efisiensi layanan kesehatan melalui percepatan diagnosis, pemangkasan waktu operasi, pengurangan masa rawat inap, dan penekanan biaya pelayanan kesehatan.
Budi juga menilai inovasi dan teknologi medis menjadi unsur penting dalam membangun sistem kesehatan nasional yang efisien, inklusif, dan berkelanjutan.
Taiwan Melihat Peluang Kerja Sama Teknologi dengan Indonesia
Sekretaris Jenderal Dana Kerja Sama dan Pembangunan Internasional atau International Cooperation and Development Fund (ICDF) Taiwan Yu-Lin Huang mengatakan pengembangan AI berskala besar membutuhkan energi dan investasi dalam jumlah besar.
Huang mencontohkan kerja sama Taiwan dengan Paraguay dalam pengembangan pusat komputasi AI dengan memanfaatkan ketersediaan listrik berbasis tenaga air.
“Contoh Paraguay didasarkan pada pengaturan mereka untuk menyediakan 2 gigawatt tenaga listrik berbasis tenaga air untuk Taiwan yang akan diubah menjadi komputasi AI. Jadi, listrik merupakan komponen utama dari inisiatif tersebut,” katanya.
Menurut Huang, pembangunan satu gigawatt kapasitas komputasi AI saat ini membutuhkan investasi lebih dari 30 miliar dolar AS.
Huang menilai Indonesia juga mempunyai peluang memperluas kerja sama dengan Taiwan dalam sektor teknologi tinggi seiring perkembangan ekonomi dan kebutuhan investasi teknologi.
“Untuk Indonesia, kita perlu memperkuat hubungan kita. Kami ingin bekerja sama dengan Anda di bidang teknologi tinggi karena Indonesia berkembang pesat. Namun, saya melihat kebutuhan akan lebih banyak investasi teknologi tinggi. Jadi, saya berharap kita dapat mengeksplorasi kerja sama teknologi semacam ini di masa depan,” ujarnya.
- Penulis :
- Gerry Eka



