
Pantau - Hampir 20 produsen kendaraan energi baru atau new energy vehicle (NEV) China, termasuk XPeng, Li Auto, dan BYD, mulai merambah industri robotika melalui penelitian dan pengembangan, pembentukan anak perusahaan, hingga investasi industri seiring berkembangnya kecerdasan berwujud menuju tahap industrialisasi.
XPeng menjadi salah satu produsen yang agresif mengembangkan bisnis tersebut melalui unit robotika yang baru menyelesaikan putaran pendanaan eksternal awal senilai lebih dari 900 juta dolar AS dengan valuasi melampaui 6,3 miliar dolar AS.
Pendanaan tersebut dipimpin IDG Capital dengan partisipasi Gaorong Ventures serta dukungan Tencent dan Alibaba sebagai investor strategis.
XPeng Siapkan Produksi Robot Humanoid IRON
XPeng telah memperkenalkan robot humanoid IRON yang dirancang menggunakan tulang belakang humanoid, otot bionik, dan kulit fleksibel.
IRON menggunakan cip, sistem persepsi, serta model end-to-end yang sama dengan teknologi pada mobil cerdas XPeng.
Robot tersebut mulai menjalani produksi uji coba dalam jumlah kecil di sebuah pabrik di Guangzhou pada Juli 2026.
XPeng juga telah menandatangani kesepakatan pembangunan basis produksi seluas 110.000 meter persegi dengan target kapasitas lebih dari 1.000 unit per bulan pada akhir tahun.
Li Auto pada Mei 2026 juga mengonfirmasi telah memulai penelitian dan pengembangan robot humanoid dengan menempatkan pengemudian otonomos dan humanoid serbaguna sebagai dua komponen utama kecerdasan berwujud.
NIO memilih strategi berbeda dengan berinvestasi pada perusahaan rintisan bidang AI berwujud, sementara BYD menjalin kemitraan strategis dengan PaXini Tech untuk mendorong penggunaan robot dalam proses manufaktur industri.
Produsen Mobil Memburu Kurva Pertumbuhan Baru
Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Penumpang China Cui Dongshu menilai ekspansi produsen otomotif ke industri robotika didorong pencarian sumber pertumbuhan bisnis baru.
"Pendorong utama di balik langkah produsen mobil memasuki industri robotika adalah upaya mengejar kurva pertumbuhan kedua," ujar Cui.
"Produsen otomotif bahkan mungkin memiliki keunggulan dibandingkan banyak startup robotika," kata Cui.
Menurut Cui, kemampuan yang telah dikembangkan untuk teknologi pengemudian cerdas, seperti persepsi, pengambilan keputusan, kendali, dan daya komputasi, dapat diterapkan dalam pengembangan kecerdasan berwujud.
Komponen kendaraan seperti motor listrik, baterai, dan pengendali serta kemampuan mengelola rantai pasok, kualitas, dan produksi massal juga memiliki keterkaitan dengan industri robotika.
"Produsen otomotif dapat mengerahkan robot di pabrik-pabrik mereka sendiri untuk pengujian dan terus mengumpulkan data di lingkungan dunia nyata guna menyempurnakan produk mereka," ujar Cui.
Cui menyarankan jalur "pelanggan bisnis terlebih dahulu, rumah tangga kemudian; penerapan khusus terlebih dahulu, penerapan serbaguna kemudian."
"Jika robot berkembang dari lingkungan industri ke layanan komersial dan bahkan konsumsi rumah tangga di masa depan, toko-toko produsen otomotif, layanan purnajual, dan jaringan luar negeri berpotensi menjadi saluran penjualan dan layanan baru bagi mereka," tambah Cui.
China Membidik Pasar Robotika Bernilai Triliunan Yuan
Pemerintah China telah menempatkan kecerdasan berwujud sebagai salah satu industri masa depan yang diprioritaskan dalam peta jalan pembangunan lima tahun terbarunya.
Pusat Penelitian Pembangunan Dewan Negara China memproyeksikan nilai pasar sektor tersebut mencapai 400 miliar yuan pada 2030 dan melampaui 1 triliun yuan pada 2035.
China saat ini memiliki lebih dari 140 produsen robot humanoid dengan volume pengiriman tahunan mencapai 14.400 unit.
Jumlah tersebut membuat China menyumbang delapan dari setiap 10 robot humanoid yang diproduksi secara global.
Namun, perkembangan industri masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari rantai pasok komponen inti yang belum matang, keterbatasan data pelatihan berkualitas tinggi, prospek keuntungan, pengendalian ekspor cip, hingga dampaknya terhadap lapangan kerja.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




