HOME  ⁄  Teknologi & Sains

BPOM dan China Segera Teken MoU, Kerja Sama Vaksin hingga Transfer Teknologi Diperluas

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

BPOM dan China Segera Teken MoU, Kerja Sama Vaksin hingga Transfer Teknologi Diperluas
Foto: Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar berbicara dalam "International Biomedical Industry Innovation Conference Beijing Forum" yang diselenggarakan Universitas Tsinghua di Beijing, Minggu (20/9/2026)

Pantau - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia dan National Medical Product Administration (NMPA) China segera menandatangani nota kesepahaman baru yang mencakup regulasi obat, vaksin, keamanan pangan, investasi hingga transfer teknologi.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan draf nota kesepahaman tersebut telah selesai setelah pertemuan dengan NMPA di China.

" Kemarin pertemuan dengan 'National Medical Product Administration' (NMPA) atau BPOM China, semua berjalan baik agar nota kesepahaman (MoU) antara BPOM Indonesia dengan NMPA akan segera kita sahkan, Jadi drafnya sudah selesai, kita akan tandatangani segera," kata Taruna Ikrar di Beijing, Minggu.

Nota kesepahaman BPOM dengan NMPA sebelumnya telah berakhir pada Juni 2024 sehingga kedua pihak mendorong pembaruan kerja sama dengan cakupan yang lebih luas.

Kerja sama baru itu akan meliputi regulasi obat, vaksin, produk biologi, bahan baku farmasi, obat bahan alam, kosmetik serta teknologi pengaturan digital.

"Insya Allah nanti akan kita tunjukkan pada saat pertemuan tingkat tinggi negara-negara APEC antara Presiden Prabowo dengan Presiden Xi," ucap Ikrar.

Transfer Teknologi Vaksin Jadi Bagian Kerja Sama

Taruna menjelaskan MoU juga mencakup investasi, keamanan, mutu, khasiat produk serta transfer teknologi antara kedua negara.

"Beberapa teknologi seperti teknologi vaksin khususnya yang ada dari China akan investasi di Indonesia. Di lain sisi Indonesia, kita punya ahli-ahli khususnya yang berhubungan dengan sertifikat pengelolaan obat karena BPOM sudah WHO, sehingga kita punya manufacturing (obat) sudah sangat bagus," papar Ikrar.

BPOM berstatus sebagai Otoritas Terdaftar WHO atau WHO-Listed Authority (WLA), yang memperkuat posisi Indonesia dalam sistem regulasi obat global.

Melalui mekanisme reliance, BPOM dapat menggunakan hasil penilaian regulator lain yang telah mapan sebagai referensi dengan tetap melakukan proses penilaian sendiri.

"Sehingga kalau nanti diterapkan, diharapkan agar industri-industri obat yang ada di China ini bisa mendapatkan sertifikat good manufacturing dari Indonesia atau sertifikat cara pembuatan obat atau cara pangan yang baik karena China belum dapat (sertifikat WHO)," ungkap Ikrar.

BPOM Dorong Investasi untuk Kurangi Ketergantungan Bahan Baku Obat

Selain bertemu NMPA, Taruna menjadi pembicara dalam International Biomedical Industry Innovation Conference Beijing Forum yang diselenggarakan Universitas Tsinghua.

"Saya menyampaikan konsep aplikasi artificial intelligence dalam pelaksanaan yang berhubungan dengan apa yang kita sebut dengan 'Advanced Therapeutic Medicinal Product dan berbagai macam turunannya," kata Ikrar.

Advanced Therapeutic Medicinal Product (ATMP) merupakan produk medis berbahan aktif yang berasal dari sel atau jaringan untuk pengobatan, pencegahan maupun diagnosis penyakit, termasuk terapi gen, terapi sel dan produk rekayasa jaringan.

"Universitas Tsinghua adalah salah satu universitas terbaik dunia. Saya berharap dari sana dapat mengembangkan teknologi dan teknologinya ke Indonesia dan akan ada pertukaran untuk pengembangan sumber daya manusia," ujar Ikrar.

BPOM juga menjadwalkan kunjungan ke sejumlah industri obat, pangan dan pengembangan kapsul untuk mendorong investasi China di Indonesia.

"Misalnya beberapa industri-industri obat, industri pangan, dan industri pengembangan kapsul yang harapannya sebelum saya balik ke Jakarta ada investasi China ke Indonesia khususnya untuk mengatasi ketergantungan terhadap bahan baku obat karena saat ini ketergantungan bahan baku obat kita lebih 90 persen, harapannya nanti ada transfer teknologi," jelasnya.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026