HOME  ⁄  Teknologi & Sains

BPOM Sebut AI Bisa Mempercepat Penemuan Obat dan Mengurangi Kesalahan Manusia

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

BPOM Sebut AI Bisa Mempercepat Penemuan Obat dan Mengurangi Kesalahan Manusia
Foto: Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar berbicara dalam "International Biomedical Industry Innovation Conference Beijing Forum" yang diselenggarakan Universitas Tsinghua di Beijing, Minggu (20/9/2026)

Pantau - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menyebut kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses penemuan obat, meningkatkan efisiensi pengawasan, serta mengurangi kesalahan manusia.

"Ada proses pengujian obat yang lebih cepat dengan menggunakan AI, misalnya uji preklinis, uji simulasi, dan sebagainya dengan simulasi AI dengan demikian akan mempercepat penemuan obat," kata Taruna di Beijing, China, Minggu, 20 September 2026.

Taruna berada di Beijing untuk bertemu sejumlah mitra, termasuk National Medical Product Administration (NMPA) atau BPOM China, menjadi pembicara dalam seminar kesehatan Universitas Tsinghua, serta bertemu pelaku industri medis.

Menurut Taruna, pengembangan obat baru harus melalui proses panjang mulai dari identifikasi dan validasi molekul, pemilihan kandidat obat, uji praklinik secara in vitro dan in vivo, hingga uji klinis fase I-III pada manusia.

"Termasuk dalam hal untuk mendeteksi partikel, protein dan reseptornya, itu bisa dengan menggunakan AI, itulah gunanya. Sama juga dengan produk-produk pangan, itu menggunakan AI bagaimana pengembangan satu sel yang mungkin saja di masa depan untuk makan daging tidak perlu dari ternak," ungkap Ikrar.

AI Dinilai Bisa Mengurangi Kesalahan Manusia

Taruna mengatakan teknologi AI telah banyak digunakan dalam pengaturan dan pengawasan obat di China sehingga penerapannya dapat menjadi salah satu pembelajaran bagi Indonesia.

"AI adalah alat bantu untuk memudahkan kita karena dengan pekerjaan yang jumlahnya jutaan, bahkan miliaran, bisa lebih cepat. Lebih efisien, kan? Itu membantu. Yang kedua, 'human error-nya' berkurang," ungkap Ikrar.

Selain mendukung proses penelitian dan pengujian, AI menurut Taruna dapat dimanfaatkan untuk melacak peredaran obat dengan menggunakan sistem kode batang.

"Lewat AI, artificial intelligence, kita bisa lacak misalnya dengan menggunakan 'barcode', jadi tahu produknya sudah sampai di mana, produknya digunakan di mana? Siapa penggunanya? Dan lainnya, itu justru lebih aman. Jadi AI itu adalah alat, instrumen, tidak perlu takut, yang jelas, Badan POM sudah memastikan kita tidak akan mengesahkan sesuatu yang tidak aman," tegas Ikrar.

BPOM Terapkan AI dalam Registrasi hingga Uji Klinis

Taruna mengatakan BPOM telah menerapkan kecerdasan buatan dalam berbagai proses, mulai dari sistem kode batang dan registrasi hingga penelitian serta uji klinis.

"Di BPOM, di bawah kepemimpinan saya, kami telah menerapkan kecerdasan buatan dalam berbagai proses, mulai dari sistem 'bar code' dan proses registrasi hingga penelitian serta uji klinis yang dilakukan para ilmuwan," tambah Ikrar.

Data yang dihasilkan melalui penerapan AI tersebut selanjutnya dapat dianalisis untuk membantu menghasilkan standar yang lebih presisi dalam proses regulasi.

"Dengan demikian, kami dapat lebih yakin bahwa suatu produk aman dan layak tersedia bagi masyarakat. Itulah peran kecerdasan buatan dalam pelaksanaan regulasi," ungkapnya.

Taruna menambahkan AI juga telah digunakan pada sejumlah bagian proses registrasi, sertifikasi dan distribusi di BPOM untuk membantu pengelolaan pekerjaan secara lebih efisien.

"Kecerdasan buatan sangat penting untuk membantu pengelolaan proses tersebut dan mengurangi kesalahan manusia karena teknologi ini dapat bekerja dengan lebih presisi. Untuk proses administrasi, kecerdasan buatan memang sangat berguna karena itu, pemerintah dan lembaga kami memperoleh pengakuan khusus atas penerapan sistem digital dalam pelayanan kepada masyarakat," jelas Ikrar.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026