HOME  ⁄  Teknologi & Sains

BRIN Siapkan 19 Obat Herbal Jadi Fitofarmaka, Prabowo Dorong Percepatan Kemandirian Obat Nasional

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

BRIN Siapkan 19 Obat Herbal Jadi Fitofarmaka, Prabowo Dorong Percepatan Kemandirian Obat Nasional
Foto: Ilustrasi. Hermanila, warga Desa Pengabuan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, memilah tanaman untuk dijadikan obat herbal (sumber: ANTARA/HO/PHR4)

Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menyiapkan 19 kandidat obat herbal untuk ditingkatkan statusnya menjadi fitofarmaka sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian obat nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan pengembangan obat herbal memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan obat dalam negeri melalui pemanfaatan hasil penelitian dan inovasi para peneliti Indonesia.

Menurut Arif, BRIN telah menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat penelitian, pengembangan, dan peningkatan klasifikasi obat herbal agar memenuhi persyaratan sebagai fitofarmaka.

"Obat herbal ini saya kira sangat potensial, dan BRIN sudah juga berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat proses obat herbal ini," kata Kepala BRIN Arif Satria di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa.

Pernyataan tersebut disampaikan Arif setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto untuk melaporkan perkembangan sejumlah program prioritas riset dan inovasi nasional.

Dalam pertemuan itu, Presiden Prabowo menekankan pentingnya percepatan kemandirian obat nasional agar Indonesia mampu memperkuat pengembangan dan penyediaan obat melalui hasil penelitian dalam negeri.

BRIN Siapkan 19 Kandidat Obat Herbal untuk Jalani Uji Klinis

Arif menjelaskan bahwa sebanyak 19 kandidat obat herbal tengah dipersiapkan untuk memenuhi persyaratan peningkatan status menjadi fitofarmaka.

Sejumlah produk herbal hasil penelitian BRIN saat ini masih berada pada tahap obat herbal terstandar (OHT), yakni kategori obat bahan alam yang telah melalui proses standardisasi dan pengujian praklinis sesuai ketentuan.

Untuk memperoleh klasifikasi fitofarmaka, produk obat herbal harus memenuhi persyaratan tambahan, termasuk pembuktian keamanan dan khasiat melalui uji klinis pada manusia.

Proses uji klinis terhadap kandidat obat herbal tersebut saat ini sedang berlangsung sebagai bagian dari tahapan pengembangan sebelum produk dapat memperoleh status fitofarmaka.

Fitofarmaka merupakan kategori obat bahan alam yang keamanan dan khasiatnya telah dibuktikan secara ilmiah melalui pengujian praklinis dan klinis serta memenuhi standar mutu yang ditetapkan.

BRIN berencana memperkuat koordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mempercepat pengembangan serta pemenuhan persyaratan obat herbal menuju fitofarmaka.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mendukung kelancaran penelitian, pengujian, dan proses pemenuhan standar keamanan, khasiat, serta mutu sesuai ketentuan yang berlaku.

Pengembangan 19 kandidat obat herbal ini menjadi salah satu langkah BRIN dalam mendukung arahan Presiden Prabowo untuk meningkatkan kemampuan Indonesia menghasilkan obat berbasis penelitian nasional.

Prabowo Minta Riset Vaksin Malaria Dipercepat, BRIN Kembangkan Empat Kandidat

Selain pengembangan obat herbal, Arif turut melaporkan perkembangan penelitian vaksin malaria yang sedang dikerjakan BRIN bersama sejumlah lembaga terkait.

Presiden Prabowo meminta agar penelitian dan pengembangan vaksin malaria dipercepat sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan riset kesehatan dan pengembangan vaksin nasional.

Saat ini, BRIN memiliki empat kandidat vaksin malaria yang tengah dikembangkan melalui kerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan perusahaan farmasi nasional Bio Farma.

Keempat kandidat vaksin tersebut masih berada dalam tahap pengembangan sehingga memerlukan penelitian dan pengujian lebih lanjut sebelum dapat digunakan secara luas.

Tahapan tersebut diperlukan untuk memastikan keamanan, efektivitas, dan kelayakan vaksin sesuai persyaratan pengembangan produk kesehatan.

Kolaborasi BRIN, Kementerian Kesehatan, dan Bio Farma diharapkan dapat mendukung percepatan penelitian vaksin sekaligus memperkuat kemampuan pengembangan teknologi kesehatan di Indonesia.

BRIN Kembangkan Teknologi Penanganan Karhutla dan Model Perambatan Api

Dalam pertemuan dengan Presiden, Arif juga menyampaikan keterlibatan BRIN dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pendekatan riset dan pemanfaatan teknologi.

BRIN bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, serta Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU).

Salah satu bentuk kerja sama tersebut adalah pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai bagian dari upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Selain mendukung operasi modifikasi cuaca, BRIN sedang melakukan penelitian mengenai model perambatan api di lokasi kebakaran hutan dan lahan.

Penelitian tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemahaman mengenai pola penyebaran api sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan penanganan karhutla.

Pengembangan model perambatan api juga menjadi bagian dari pemanfaatan hasil riset untuk mendukung upaya penanggulangan bencana berbasis teknologi.

Limbah Sawit Berpotensi Hasilkan Listrik 3,9 Gigawatt, BRIN Kembangkan Teknologi Penyimpanan Biogas

Di sektor energi, Arif melaporkan kepada Presiden mengenai potensi pemanfaatan limbah industri kelapa sawit sebagai bahan baku pengembangan biogas untuk mendukung penyediaan energi alternatif dalam negeri.

Menurutnya, limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) dan tandan kosong kelapa sawit memiliki potensi besar untuk diolah menjadi sumber energi.

Berdasarkan potensi yang disampaikan Arif, pemanfaatan kedua jenis limbah tersebut diperkirakan dapat menghasilkan listrik dengan kapasitas sekitar 3,9 gigawatt.

Potensi tersebut menunjukkan peluang pengembangan energi alternatif berbasis limbah industri kelapa sawit sekaligus meningkatkan nilai guna hasil sampingan kegiatan pengolahan sawit.

Selain pengembangan biogas, BRIN memperkenalkan teknologi Metal-Organic Framework (MOF), yakni material berstruktur berpori yang mampu menyimpan gas melalui mekanisme penyerapan pada permukaan internal material.

Arif menjelaskan bahwa teknologi MOF berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung penyimpanan biogas sehingga gas hasil pengolahan limbah dapat dikemas dalam tabung dan lebih mudah digunakan sebagai sumber energi.

Pengembangan teknologi penyimpanan tersebut diharapkan dapat memperluas pemanfaatan biogas sebagai salah satu alternatif energi berbasis sumber daya domestik.

Arif juga mengaitkan pentingnya pengembangan energi alternatif dengan besarnya kebutuhan impor liquefied petroleum gas (LPG) Indonesia yang menurutnya mencapai sekitar Rp97 triliun setiap tahun.

Dengan nilai impor tersebut, pengembangan teknologi pengolahan dan penyimpanan biogas dinilai berpotensi mendukung penguatan sumber energi dalam negeri, meskipun penerapannya masih memerlukan pengembangan teknologi dan kesiapan infrastruktur.

Laporan BRIN kepada Presiden Prabowo mencakup sejumlah prioritas riset nasional, mulai dari pengembangan 19 kandidat obat herbal menuju fitofarmaka, empat kandidat vaksin malaria, teknologi penanganan karhutla, hingga pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai sumber energi.

Melalui berbagai program tersebut, BRIN berupaya mempercepat pengembangan teknologi dan inovasi nasional untuk mendukung kemandirian obat, penguatan riset kesehatan, penanganan kebakaran hutan dan lahan, serta pengembangan energi alternatif di Indonesia.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026