Pantau Flash
Jubir Sebut 75 Persen Pasien COVID-19 di 11 Provinsi Telah Sembuh
Bamsoet Mendesak Kementan Segera Lakukan Uji Klinis Antivirus Korona
Jumlah Pasien Sembuh COVID-19 di Wisma Atlet Bertambah Menjadi 3.586 Orang
Seluruh Pasien COVID-19 di Klaster Terbesar Gunung Kidul Telah Sembuh
Soal Larangan Tampil di Liga Champions, Guardiola Yakin City Menang Banding

Sekjen PBB: Perang Kita Melawan Alam Harus Berhenti

Sekjen PBB: Perang Kita Melawan Alam Harus Berhenti Sekjen PBB Antonio Guterres berbicara dalam konferensi pers malam sebelum KTT Iklim PBB (COP25) di Madrid, Spanyol, Minggu (1/12/2019). (Foto: Reuters/Sergio Perez)

Pantau.com - Dunia harus menghentikan perang melawan alam dan menemukan itikad politik lebih besar guna memerangi perubahan iklim. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan pada malam pertemuan puncak iklim global.

Di seluruh dunia, cuaca ekstrem mulai dari kebakaran hutan sampai banjir berkaitan dengan pemanasan global buat manusia, sehingga menambah tekanan atas pertemuan puncak dua-pekan itu agar memperkokoh pelaksanaan Kesepakatan Paris 2015 mengenai pembatasan kenaikan temperatur.

"Perang kita melawan alam harus berhenti, dan kita mengetahui itu mungkin dilakukan," kata Guterres sebelum pertemuan puncak 2-13 Desember, sebagaimana dikutip Reuters, Senin (2/12/2019).

Baca juga: Perubahan Iklim Pengaruhi Masalah Kesehatan Global

"Kita cuma harus berhenti menggali dan membor dan memanfaatkan kesempatan luas yang ditawarkan oleh energi terbarukan dan penyelesaian yang berlandaskan alam."

Pengurangan buangan gas rumah kaca --yang kebanyakan dari pembakaran bahan bakar fosil --yang telah disepakati sejauh ini berdasarkan Kesepakatan Paris tidak cukup untuk membatasi kenaikan temperatur buat sasaran antara 1,5 dan dua Derajat Celsius (2,7-3,6 Derajat Fahrenheit) di atas tingkat pra-industri. Banyak negara bahkan tidak memenuhi komitmen itu, dan i'tikad politik kurang, kata Guterres.

Sementara itu Presiden AS Donald Trump mulai menarik Amerika Serikat dari Kesepakatan Paris, sedangkan penggurunan hutan di lembah Amazon --cadangan penting karbon-- bertambah cepat dan China kembali condong ke arah pembangunan lebih banyak pembangkit listrik yang bertenaga batu-bara.

Tujuh-puluh negara telah berkomitmen pada sasaran "netralitas karbon" atau "netralitas iklim" sampai 2050. Itu berarti mereka akan menyeimbangkan buangan gas rumah kaca, misalnya melalui teknologi penangkap karbon atau dengan penanaman pohon. 

"Kita juga melihat dengan jelas bahwa pembuang terbesar di dunia tidak menarik diri, dan tanpa mereka, sasaran kita tak bisa dicapai," kata Guterrez.

Baca juga: Pernyataan Menteri Jepang Pantik Emosi, Hanya Gegara Kata-kata Seksi

Pertemuan puncak iklim PBB tahun lalu di Polandia menghasilkan kerangka kerja karena melaporkan dan pemantauan janji buangan gas serta peningkatan rencana buat pengurangan lebih jauh. Tapi masalahnya tetap ada, tidak kurang dari satu pasal mengenai bagaimana menetapkan harga pada buangan, dan juga mengizinkan itu diperdagangkan.

"Saya bahkan tak ingin mempertimbangkan kemungkinan bahwa kita tidak setuju mengenai pasal 6," kata Guterres. "Kita berada di sini untuk menyetujui panduan untuk melaksanakan pasal 6, untuk tidak menemukan alasan untuk tidak melakukan itu."

Gubernur Bank of Engladn Mark Carney telah menerima baik undangan untuk menjadi utusan khusus PBB mengenai aksi iklim dan keuangan iklim dari 1 Januari, kata Guterres.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta