Pantau Flash
Penembakan di RM Cafe Cengkareng, 3 Orang Tewas
Jokowi Tinjau Langsung Vaksinasi COVID-19 Massal Wartawan di GBK Pagi Ini
Panglima TNI Mutasi 114 Pati, Mayjen Bakti Agus Fadjari Jabat Wakasad
Waspada, BMKG Deteksi Bibit Siklon Tropis Pemicu Hujan Ekstrem
BMKG Prediksi Hujan Ekstrem Malam Ini hingga Besok: Jabodetabek Siaga Banjir

Kasus Positif Korona Dunia Lampaui 100 Juta Jiwa, Setiap 7 Detik Satu Orang Terserang COVID-19

Headline
Kasus Positif Korona Dunia Lampaui 100 Juta Jiwa, Setiap 7 Detik Satu Orang Terserang COVID-19 Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Jumlah penderita COVID-19 dunia pada Rabu (27/1/2021) melampaui angka 100 juta jiwa, menurut hitungan Reuters, sementara negara-negara bergulat mengendalikan wabah dari varian baru virus serta lambatnya distribusi vaksin.

Hampir 1,3 persen dari total penduduk dunia telah terserang COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus korona jenis baru (SARS-CoV-2). 

Sudah lebih dari 2,1 juta orang meninggal akibat penyakit itu. Sejak awal 2021, rata-rata satu orang terserang COVID-19 tiap 7,7 detik.

Kurang lebih 668.250 kasus positif dilaporkan oleh otoritas berbagai negara tiap harinya dan tingkat kematian global mencapai angka 2,15 persen.

Baca juga: RS Swasta Diminta Buka Pintu, Kemenkes: Jangan Anggap COVID-19 Urusan Pemerintah Saja

Negara-negara yang paling parah terdampak COVID-19 di antaranya adalah Amerika Serikat, India, Brazil, Rusia, dan Inggris. Jumlah penderita COVID-19 dari lima negara itu mencakup lebih dari setengah total kasus positif dunia atau sekitar 28 persen populasi global, demikian hasil analisis Reuters.

Warga dunia butuh waktu sampai 11 bulan untuk sampai pada kasus positif ke-50 juta, tetapi hanya tiga bulan untuk menyentuh angka 100 juta jiwa.

Sekitar 56 negara telah memulai vaksinasi COVID-19 dan kurang lebih 64 juta dosis vaksin telah disuntikkan pada kalangan tenaga kesehatan.

Israel menempati urutan teratas untuk jumlah vaksinasi per kapita terbesar dan otoritas setempat telah memberikan dosis pertama vaksin COVID-19 pada kurang lebih 29 persen warganya.

Amerika Serikat melaporkan lebih dari 25 juta kasus positif COVID-19 atau 25 persen dari total jumlah penderita COVID-19 dunia.

AS masih mengisi posisi teratas sebagai negara dengan kasus positif COVID-19 harian terbanyak. Sedikitnya satu dari lima korban jiwa yang dilaporkan tiap harinya ada di Amerika Serikat.

Kasus kematian COVID-19 di AS mencapai 425.000 jiwa, hampir dua kali dari jumlah korban jiwa di Brazil, negara dengan kasus kematian COVID-19 tertinggi kedua dunia.

Sementara itu, negara-negara Eropa melaporkan satu juta kasus positif per empat hari sehingga totalnya hampir mencapai 30 juta jiwa. Kasus kematian COVID-19 di Inggris telah mencapai 100.000 jiwa, Selasa (26/1/2021).

Negara-negara di Eropa saat ini menghadapi pengurangan jatah vaksin dari dua produsen utamanya, yaitu AstraZeneca Plc dan Pfizer Inc.

India, negara yang menempati urutan kedua untuk kasus positif terbanyak dunia, mulai mengalami penurunan kasus positif. Setidaknya, hampir 13.700 pasien positif dilaporkan oleh otoritas setempat per harinya.

Perdana Menteri India Narendra Modi minggu lalu mengatakan India mengandalkan persediaan vaksin dalam negeri karena negara itu akan memvaksin lebih dari satu juta jiwa dalam waktu satu minggu sejak program vaksinasi dimulai.

Sementara itu, China masih menghadapi gelombang penularan baru di dalam negerinya sejak Maret 2020.

Afrika, yang saat ini menghadapi varian COVID-19 baru yang ditemukan di Afrika Selatan dan Inggris, masih berupaya mengamankan persediaan vaksin sementara banyak negara Barat menimbun vaksin COVID-19.

Baca juga: COVID-19 RI per 27 Januari: Kasus Positif 1.024.298 dan Pasien Sembuh 831.330

Menurut data Reuters, negara-negara Afrika melaporkan hampir 3,5 juta kasus positif dan 85.000 di antaranya meninggal dunia.

Varian baru COVID-19 yang ditemukan di Afrika Selatan, disebut dengan 501Y.V2, diketahui 50 persen lebih cepat menular daripada jenis COVID-19 yang umum. Varian baru itu telah ditemukan di 20 negara.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden akan melarang hampir seluruh warga asing yang punya riwayat perjalanan ke Afrika Selatan memasuki AS mulai Sabtu demi mencegah masuknya varian baru COVID-19.

Australia dan Selandia Baru relatif berhasil mengendalikan penyebaran COVID-19 berkat kebijakan tutup perbatasan yang cepat, penutupan wilayah, aturan karantina di hotel yang ketat untuk para pendatang, serta pemeriksaan atau tes COVID-19 yang masif.

"Kami telah mengendalikan penyebaran virus di Australia, tetapi kami ingin segera memulai vaksinasi," kata Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg saat acara jumpa pers, akhir pekan lalu.

Tim Pantau
Editor
Gilang K. Candra Respaty

Berita Terkait: