Pantau Flash
Putri Kerajaan Spanyol Wafat Usai Terinfeksi COVID-19
Paket Bantuan Amerika Serikat untuk COVID-19 Mencapai Rp32.400 Triliun
Jadi Episentrum COVID-19, 66 Orang Meninggal Dunia di Jakarta
Kemenpora Keluarkan Protokol Guna Perangi Wabah Virus Korona
12 Ruas Jalanan Kota Medan Resmi Ditutup Imbas Pandemi Korona

Peneliti LIPI Ungkap Skenario Terburuk untuk Atasi COVID-19

Peneliti LIPI Ungkap Skenario Terburuk untuk Atasi COVID-19 Warga beraktivitas menggunakan masker di kawasan Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta, Senin (2/3/2020). (Foto: Antara/Galih Pradipta)

Pantau.com - Kekebalan kelompok atau herd immunity merupakan solusi terakhir dan skenario paling buruk untuk menangani COVID-19 dengan risiko yang besar karena banyaknya jumlah infeksi yang dibutuhkan untuk membentuk kekebalan, kata peneliti mikrobiologi Sugiyono Saputra.

"Herd immunity adalah skenario terburuk sebetulnya, jangan sampai kita terinfeksi semua karena biaya perawatan bisa menjadi lebih mahal," kata peneliti dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu ketika dihubungi dari Jakarta, Kamis (26/3/2020).

Menurut dia, memang dalam teori herd immunity atau kekebalan kelompok atau komunitas membuat kemungkinan virus menginfeksi akan semakin kecil ketika tercipta keadaan di mana banyak orang yang sudah memiliki kekebalan terhadap penyakit tertentu.

Baca juga: Pemerintah: Tak Semua Pembawa Virus Korona Tampak seperti Orang Sakit

Kekebalan seseorang dapat muncul jika dia sudah pulih dari infeksi penyakit atau lewat intervensi medis lewat vaksinasi.

Menurut situs Kementerian Kesehatan sendiri, herd immunity menimbulkan dampak tidak langsung (indirect effect) yaitu turut terlindunginya kelompok masyarakat yang bukan merupakan sasaran imunisasi dari penyakit yang bersangkutan atau dengan semakin kecilnya kemungkinan berkontak dengan orang yang terinfeksi.

Namun, herd immunity membutuhkan jumlah orang yang terinfeksi dan sembuh dalam jumlah besar dan untuk kasus virus yang belum terdapat vaksinnya seperti COVID-19 hal itu akan menimbulkan risiko besar.

Baca juga: Yogyakarta Kini Berstatus Tanggap Darurat Bencana COVID-19

"Lebih baik saat ini mendorong pencegahan jangan sampai tertular, jangan sampai kita menunggu sakit lalu terus kebal," kata dia.

Upaya pencegahan ada dalam bentuk farmasi dan non farmasi. Untuk farmasi saat ini para peneliti tengah meneliti vaksin untuk mencegah COVID-19 dan obat untuk menyembuhkan dari penyakit yang menyerang sistem pernapasan itu.

"Sedangkan upaya non farmasi seperti yang tengah digalakkan oleh pemerintah saat ini yaitu physical distancing atau menjaga jarak untuk menekan angka penularan penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 itu," ujar Sugiyono.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: