Pantau Flash
Bursa Saham Kawasan Naik, IHSG Menguat 15,07 Poin
Eijkman: Flu Babi Membawa Semua Gen yang Pernah Menimbulkan Pandemi
Sudah Ada 29.919 Orang di Indonesia yang Sembuh dari COVID-19
Nadiem Tegaskan Kebijakan: Belajar Merdeka Memiliki Daya Saing Kuat
Pratikno: Janagan Ribut Lagi Soal Reshuffle, Progres Kabinet Berjalan Bagus

Pengambilan Paksa Jenazah Akibat Sosialisasi Bahaya COVID-19 Kurang?

Pengambilan Paksa Jenazah Akibat Sosialisasi Bahaya COVID-19 Kurang? Sejumlah petugas medis memakamkan jenazah pasien positif COVID-19 dengan menggunakan alat pelindung diri (APD). (Foto: Antara/Iggoy el Fitra)

Pantau.com - Pengamat komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing mengatakan sosialisasi terkait bahaya COVID-19 tidak sampai kepada masyarakat dengan baik sehingga ada terjadi pengambilan paksa jenazah oleh anggota keluarga pasien.

"Menurut saya ini kegagalan kita dan kementerian terkait dalam menumbuhkan kesadaran di tengah masyarakat," kata dia saat dihubungi di Jakarta.

Terkait masih kurangnya sosialisasi bahaya COVID-19 tersebut, Emrus menilai Kementerian Komunikasi dan Informatika merupakan pihak paling bertanggung jawab untuk menyampaikan kepada masyarakat luas melalui perangkat di bawahnya. "Tugas mereka menyampaikan sosialisasi dan menyadarkan masyarakat," katanya.

Baca juga: Jokowi: Jangan Lagi Ada Pengambilan Paksa Jenazah yang Jelas-jelas COVID-19

Sebab, ujar dia, bisa saja masyarakat yang membawa paksa jenazah COVID-19 tersebut beranggapan penyakit itu tidak berbahaya karena selama ini mereka kurang mendapatkan sosialisasi yang maksimal.

Ia mengatakan jika merujuk kepada pendekatan teori Evert Rogers terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan kepada masyarakat dalam menyampaikan suatu informasi di antaranya pengetahuan, pemberian persuasif untuk mengubah sikap dan berperilaku.

"Pengetahuan mereka tentang COVID-19 ini belum memadai, mereka anggap belum berbahaya," ujar dia.

Baca juga: COVID-19 per 29 Juni 2020: 55.092 Positif, Pasien Sembuh 23.800

Hal itu diperparah dengan sejumlah informasi hoaks yang terus beredar di tengah masyarakat. Akibatnya, individu yang memiliki pengetahuan menengah ke bawah salah dalam menyikapi apabila ada anggota keluarga yang terpapar COVID-19 misalnya membawa paksa dari rumah sakit.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo berharap tidak terjadi lagi pengambilan paksa atau perebutan jenazah pasien yang terpapar COVID-19.

Presiden dalam rapat terbatas di Istana Merdeka meminta seluruh jajarannya untuk melibatkan tokoh-tokoh agama, masyarakat, budayawan, ahli komunikasi publik dan praktisi lainnya untuk menjelaskan kepada masyarakat mengenai bahaya dan juga risiko penularan virus corona tipe baru yang begitu cepat.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: