Pantau Flash
Prabowo: Rencana Pemindahan Ibu Kota Sudah Digodok Gerindra Sejak 2014
Anies Pastikan Pemprov DKI Lepas Saham di Perusahaan Bir Tahun Depan
Pemindahan Ibu Kota, Sri Mulyani: Kami Tidak Masukkan ke RAPBN 2020
Dua Kali Tertinggal, Madura United Tahan Imbang Persija 2-2
Zakir Naik Dipanggil Polisi Malaysia Terkait Berita Hoax dan China

Bursa Saham Amerika Anjlok 800 Point, Pakar: Tanda Investor AS Khawatir

Bursa Saham Amerika Anjlok 800 Point, Pakar: Tanda Investor AS Khawatir Papan elektronik di lantai perdagangan Bursa Saham New York menunjukkan angka penutupan Indeks Dow Jones Industrial, 14 Agustus 2019. (Foto: AP)

Pantau.com - Bursa saham AS anjlok, Rabu (14 Agustus 2019), setelah indikator utama ekonomi menunjukkan kemungkinan terjadinya resesi dalam setahun ke depan.

Indeks Dow Jones jatuh 800 point, atau tiga persen. Indeks S&P 500 dan Nasdaq juga rontok tiga persen, dan bursa saham di Eropa turun tajam.

Dilansir VOA, kata para analis ini disebabkan lemahnya perekonomian Jerman dan China yang menunjukkan tanda-tanda bahwa perekonomian dunia sedang melambat. Tapi yang lebih meresahkan adalah apa yang disebut para pakar sebagai “yield curve inversion” atau berbaliknya kurva imbal hasil obligasi (surat utang) pemerintah AS.

Dalam keadaan normal, tingkat suku bunga obligasi pemerintah untuk jangka panjang akan lebih tinggi dibanding obligasi pemerintah jangka pendek.

Baca juga: Indonesia Great Sale Resmi Dibuka, Buruan List Belanjaan Anda

Tapi apa yang terjadi pada Rabu dilihat oleh para analis sebagai tanda bahwa para investor khawatir akan keadaan perekonomian Amerika saat ini.

Ini adalah pertama kalinya terjadi penurunan tingkat suku bunga obligasi pemerintah jangka panjang sejak 2007, ketika perekonomian Amerika memasuki masa resesi terburuk sejak resesi besar tahun 1930-an.

Jutaan para pekerja Amerika kehilangan pekerjaan dalam resesi yang terjadi mulai tahun 2008 itu. Jutaan orang kesulitan membayar cicilan rumah sehingga rumah mereka disita oleh bank.

Baca juga: Duh! Pengiriman Pesawat Airbus 'Ngacir' di Depan Boeing, Maaf Ya....

Kata para pakar turunnya suku bunga obligasi itu selalu terjadi menjelang sembilan resesi Amerika yang terjadi dalam enam dasawarsa terakhir. Tapi, tambah mereka, turunnya suku bunga itu bukan indikator yang pasti akan terjadinya resesi. Pada 1966 hal yang sama terjadi, tapi tidak ada resesi.

Share this Post:
Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: