Pantau Flash
Guardiola Minta Kompetisi di Inggris Dikurangi
Seluruh Wartawan Istana Negara Selamat dalam Tragedi Kapal Tenggelam
Kapal yang Ditumpangi Wartawan Istana Negara Tenggelam di Labuan Bajo
IMF: Lesunya Ekspor, Ekonomi Indonesia Miliki Beban di 2020
Awak Kabin Garuda Harapkan Direktur Safety Kembali Diadakan

Diskriminasi Kembali Terjadi di Australia, Dokter Lulusan China Tiarap

Diskriminasi Kembali Terjadi di Australia, Dokter Lulusan China Tiarap Dokter lulusan China yang telah pindah kewarganegaraan Australia tidak mendapatkan kesempatan penempatan di rumahsakit sehingga tak boleh buka praktek di Canberra.

Pantau.com - Pemerintah Negara Bagian Ibukota Canberra (ACT), Australia memenangkan gugatan diskriminasi dalam kasus penempatan dokter magang di salah satu di rumah sakit yang dialami seorang dokter lulusan China.

Dokter ini menggugat karena merasa terjadi diskriminasi. Tadinya, pengadilan memenangkan Dokter Qinglin Wang dan mendapatkan kompensasi 40 ribu dolar yang harus dibayar Pemerintah ACT. Dia merasa "gelisah, malu dan terhina" setelah upayanya untuk magang di salah satu rumahsakit di Canberra ditolak.

Dokter Qinglin ketika di China pernah menjabat direktur neurologi di Universitas Kedokteran Tianjin. Namun dia pindah ke Australia pada tahun 2001 dan menjadi warga negara sejak tahun 2006.

Dikutip dari ABC News, Rabu (17/7/2019), pada 2013, Dr Qinglin telah merampungkan hampir semua persyaratan untuk bisa membuka praktik kedokteran di Australia. Hanya satu syarat lagi yang tersisa, yaitu magang selama satu tahun di salah satu rumahsakit Australia.

Tapi kebijakan perekrutan dokter yang berlaku di Canberra, menempatkan dokter lulusan luar negeri di tempat terakhir untuk dipertimbangkan magang.

Baca juga: Rahasia Aliran Uang Terbesar China Akhirnya Terungkap

Artinya, secara efektif Dr Qinglin tidak berhasil mendapatkan kesempatan magang. Dokter yang juga memiliki gelar master dalam bidang neurologi dan pengalaman lebih dari 15 tahun ini, akhirnya bekerja sebagai asisten perawat di salah satu rumah jompo.

Dia pun menggugat kebijakan yang dia anggap diskriminasi rasial ini, karena menurut dia, jelas-jelas merugikan dokter lulusan universitas asing.

Pengadilan Sipil dan Administrasi (ACAT) yang memeriksa kasusnya memenangkan Dokter Qinglin pada tahun 2016. Namun Pemerintah ACT mengajukan banding, dan hari Senin 15 Juli 2019, keluar keputusan yang membatalkan keputusan pengadilan sebelumnya.

Lulusan luar negeri di tempat terakhir

Dalam sidang banding, pengacara yang mewakili Pemerintah ACT berdalih bahwa kebijakan tersebut tidak membeda-bedakan pelamar berdasarkan ras atau kebangsaan, tapi berdasarkan tempat mereka belajar kedokteran. Ini, katanya, bukan kategori yang tercakup dalam UU Diskriminasi.

Namun pengacara Dr Qinglin mengatakan bahwa mereka yang tidak lahir di Australia atau Selandia Baru dan memiliki kualifikasi asing, sama saja dengan diskriminasi jika memperlakukan mereka secara tak menguntungkan.

"Dr Qinglin Wang menyampaikan bahwa orang asal China umumnya (walaupun tidak selalu) memperoleh gelar medis mereka dari universitas di luar negeri," kata Presiden ACAT Graeme Neate.

"Dengan demikian, penggunaan daftar prioritas ACT untuk menentukan penempatan magang menunjukkan adanya diskriminasi langsung," katanya.

Dalam sidang banding, Pemerintah ACT berdalih dari kategori pelamar dengan prioritas tertinggi yaitu lulusan Universitas Nasional Australia yang berkomitmen untuk bekerja di Canberra, 48 persen di antaranya lahir di luar negeri.

Baca juga: Miris! Burung Laut di Australia Ditemukan Buat Sarang dari Sampah Plastik

Dengan mempertimbangkan angka ini, pengadilan memutuskan "tidak ada bukti bahwa administrasi kebijakan memiliki dampak merugikan mereka yang berasal dari China atau asal negara non-Australia lainnya".

ACAT menemukan bahwa Pemerintah ACT tidak mendiskriminasi Dr Qinglin, baik secara langsung maupun tak langsung, berdasarkan kewarganegaraannya.

Disebutkan bahwa Dr Qinglin tidak menghadapi diskriminasi rasial, sebagian karena gelar dokter dari China bukanlah karakteristik yang dimiliki kebanyakan orang kelahiran China.

"Memiliki gelar medis dari universitas di luar negeri belum tentu berbasis rasial," katanya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Internasional

Berita Terkait: