Forgot Password Register

Kapolri Ungkap Fenomena Bom Bunuh Diri Libatkan Anak Indonesia

Kapolri Jenderal Tito Karnavian (Foto: Antara / Indrianto Eko Suwarso) Kapolri Jenderal Tito Karnavian (Foto: Antara / Indrianto Eko Suwarso)

Pantau.com - Penyerangan teror bom terjadi secara bertubi-tubi di Surabaya, Jawa Timur. Namun, yang memprihatinkan adalah ketika pelaku teror merupakan satu keluarga yang juga melibatkan anak-anak.

Fenomena menggunakan anak-anak baru pertama kali di Indonesia, di mana berusia 9 hingga 12 tahun.

"Di ISIS mereka sudah melakukan di Suriah menggunakan anak-anak. Memprihatinkan. Perkembangan seperti ini dan ini tidak terkait agama tapi ini terkait dengan jaringan dalam negeri, regional, Filipina dan Timur Tengah, kita akan bekerja lebih keras lagi untuk menangani ini," ujar Kaporli Jenderal Tito Karnavian di Mapolrestabes Surabaya, Senin pagi (14/5/2018).

Tito mengemukakan, kelompok yang melakukan aksi di Polrestabes Surabaya merupakan bagian dari kelompok yang sama yang melakukan aksi di tiga Gereja di Surabaya, Minggu, 13 Mei 2018, yakni kelompok sel Jamaah Ansharud Daulah (JAD) di Surabaya.

"Kenapa aksinya di Surabaya? Karena mereka menguasai daerah ini. Mengapa mereka melakukan aksi ini? Karena pimpinan mereka ditangkap. Instruksi juga dari ISIS sentral di Suriah," ucapnya.

Baca juga: Bocah yang Bersama Pelaku Bom Polrestabes Surabaya Bisa Jadi Saksi Kunci

Ia mengatakan dalam aksi bom bunuh diri itu, pelaku membawa dua sepeda motor dan bom peledak.

"Ada lima orang. Mereka ini masih satu keluarga, lagi masih diidentifikasi oleh kita," ujar Tito.

Dalam aksinya, lima orang itu meledakkan diri dan empat di antaranya meninggal dunia. "Mereka mau masuk dan penjagaan cukup ketat, saat distop ada mobil anggota masuk kemudian ada ledakan. Empat orang meninggal, anak tersebut terlempar masih selamat," ungkapnya.

Tito mengungkapkan, saat ini anggota kepolisian mengalami luka, namun tidak meninggal dunia atas ledakan itu.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More