Pantau Flash
BWF World Tour Finals 2019: Ginting Raih Runner-up
Tol Jakarta-Cikampek II Dibuka Minggu Pagi
Tekuk Chen Long, Anthony Ginting Tembus Final BWF World Tour Finals 2019
Industri Fintech Lending Diharapkan Makin Sehat Tahun Depan
Menteri Pendidikan Malaysia Apresiasi Langkah Nadiem yang Hapus UN

Menteri Energi Arab Saudi Targetkan Produksi Minyak Pulih Akhir September

Headline
Menteri Energi Arab Saudi Targetkan Produksi Minyak Pulih Akhir September Menteri Energi Arab Saudi Prince Abdulaziz bin Salman dalam konferensi pers di Jeddah, Arab Saudi, 17 September 2019. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Arab Saudi akan memulihkan produksi minyaknya pada akhir September, Reuters melaporkan, Rabu (18/9/2019). Selain itu, Arab Saudi juga sudah berhasil memulihkan volume pasokan minyak kepada para pelanggannya ke level sebelum penyerangan terhadap fasilitas pengolahan minyakan dengan mengambil dari cadangan minyaknya.

Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan Selasa (17 September 2019) bahwa produksi rata-rata pada September dan Oktober akan mencapai 9,89 juta barel per hari (bph) minyak dan negara pengekspor minyak terbesar di dunia akan memastikan memenuhi komitmen pasokan minyak secara penuh kepada para pelanggannya bulan ini.

"Selama dua hari belakangan kami sudah mengatasi kerusakan dan memulihkan lebih dari setengah produksi minyak yang sempat turun akibat serangan teroris," kata Pangeran Abdulaziz dalam konferensi pers di Jeddah, kota di Laut Merah.

Baca juga: Data: Tren Penggunaan Robot pada Industri Indonesia Naik

Katanya, Kerajaan akan mencapai kapasitas produksi 11 juta bph pada akhir September dan 12 juta bph pada akhir November.

"Pasokan minyak akan kembali memasuki pasar seperti sebelum pukul 3.43 pagi Sabtu," kata Abdulaziz.

Abdulaziz merujuk pada penyerangan terhadap kilang minyak milik badan usaha milik negara (BUMN) di Abqaiq dan Khurais. Serangan itu termasuk mengenai fasilitas pengolahan minyak terbesar di dunia. Akibat serangan itu, produk minyak sebesar 5,7 juta bph atau lebih dari setengah produksi Arab Saudi atau setara 5 persen dari produksi dunia, terhenti.

Kepala Eksekutif Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan pihaknya masih dalam proses menghitung pekerjaan perbaikan, namun tidak terlalu penting mengingat besarnya perusahaan itu.

"Kami akan mencapai tingkat produksi sebelum penyerangan terhadap fasilitas kami pada akhir September," kata Nasser dalam konferensi pers yang sama.

Dia bilang Saudi Aramco sedang dalam proses memulihkan penyulingan minyak ke kapasitas penuh dan menegaskan pasokan produk minyak mentah untuk pasar-pasar domestik cukup. Menurutnya, Aramco memiliki cadangan minyak mentah sebanyak lebih dari 60 juta barel.

Baca juga: Antara Nikmat dan Pesakitan Industri Rokok di Indonesia

Dalam acara yang sama, Ketua Aramco Yasser al-Rumayyan mengatakan penawaran umum saham perdana (IPO) Saudi Aramco akan siap dalam 12 bulan mendatang. Dia juga menegaskan bahwa kerajaan itu berkomitmen pada rencana IPO tersebut.

Rumayyan mengatakan bahwa IPO tetap lanjut seperti yang direncanakan walaupun ada serangan pada akhir pekan. Sedangkan waktu pelaksanaan IPO akan tergantung pada kondisi pasar.

Pangeran Abdulaziz mengatakan belum tahu siapa dibalik penyerangan itu dan mengapa, sambil mengatakan Saudi akan mempertahankan posisinya sebagai pemasok yang aman untuk pasar dunia.

Menurut Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, penyelidikan awal mengindikasikan senjata-senjata Iran digunakan dalam penyerangan tersebut. Awalnya pihak berwenang menyebutkan penyerangan itu menggunakan drone atau pesawat nirawak.

Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: