Forgot Password Register

Headlines

Populasi Penduduk Didominasi Manula, Jepang Darurat Tenaga Kerja

Populasi Penduduk Didominasi Manula, Jepang Darurat Tenaga Kerja Sejumlah warga manula Jepang Jepang masih bekerja, salah satunya di sektor konveksi (Foto: AFP)

Pantau.com - Seiring jumlah manula yang makin banyak, Jepang semakin kekurangan tenaga kerja. Dikutip dari BBC, penulis menceritakan ketika dirinya tinggal di pedesaan Jepang 10 tahun lalu. Bahkan di Tokyo, sebagai orang Amerika Serikat berkulit putih nan jangkung, ia sering dilihat dengan aneh oleh penduduk lokal.

Namun ketika ia berkunjung ke negara itu November lalu, ia kaget betapa Jepang telah berubah. Setiap hotel, pusat perbelanjaan, dan kafe sepertinya mempekerjakan setidaknya satu imigran. Beberapa anak muda yang berjaga di resepsionis dan pusat gim video tidak menggunakan label nama bertuliskan huruf kanji.

Di sebuah bar-restoran di Kanazawa, kota di utara Tokyo yang hampir seluas ibukota Jepang itu, ia melihat orang Kaukasia menjadi asisten juru masak sushi. Di restoran lainnya, bertemu pelayan dari negara Asia lainnya sebelum akhirnya berbincang dalam bahasa Inggris. Singkatnya, Jepang telah membuka diri terhadap dunia luar dan proses itu berada pada puncak akselerasinya.

Baca juga: Ini Alasan Indonesia Berguru ke Jepang Kembangkan Mobil Listrik

Faktor utamanya adalah perbuahan demografi, dimana populasi Jepang semakin menua dan kelompok muda-mudinya menyusut. Ditambah faktor pariwisata yang melesat jauh dibandingkan sebelumnya, serta persiapan besar-besaran jelang Olimpiade 2020, hasilnya Jepang sangat membutuhkan tenaga kerja.

Jepang telah mengetahui kegentingan demografi itu beberapa dekade sebelum ini. Namun karena pemerintah enggan mengambil langkah strategis, persoalan ini membesar.

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, ingin mendatangkan lebih banyak tenaga kerja asing berupah rendah. Meski begitu, rencananya menerima ribuan warga asing untuk mengisi pekerjaan kerah biru hingga 2025 sangat kontroversial di negara yang berjarak dengan imigran.

Pada 7 Desember 2018, parlemen Jepang menyetujui regulasi yang membuka sebesar-besarnya keran kedatangan tenaga kerja asing. Berasal dari Nepal, Shrestha adalah satu dari 1,28 juta pekerja asing di Jepang. Angka itu merupakan rekor, naik dari 480 ribu pada tahun 2008.

Baca juga: Gemesnya... Produk ini Jatuh Cinta dengan Bayi Jepang Berambut Lebat

Namun, angka itu hanya sebesar 1 persen dibandingkan total populasi Jepang. Sebagai komparasi, persentase di Inggris mencapai 5 persen dan 17 persen di AS. Hampir 30 persen pekerja asing di Jepang merupakan warga Cina, disusul Vietnam, Filipina, dan Brasil.

Jumlah yang minim itu disebabkan isu imigrasi yang tak populer di Jepang. Sebagai negara kepulauan, Jepang pernah sangat terisolasi dari dunia luar. Pada pertengahan abad ke-19, orang yang masuk atau meninggalkan Jepang bahkan dapat dijatuhi hukuman mati. Jepang saat ini sangat homogen dengan identitas kultural yang kuat.

Merujuk sejarah, rasa waswas Jepang terhadap imigran disebabkan pada kekhawatiran kehilangan lahan pekerjaan, gangguan budaya, hingga kekhawatiran meningkatnya kejahatan di negara yang terkenal rendah angka kriminalitas itu.

Baca juga: Gengs! BlackBerry Bakal 'Reborn' dalam Bentuk Mobil

Populasi Jepang berkurang hampir satu juta orang dari sejak 2010 hingga 2015. Tahun 2017, jumlah penduduk negara itu berkurang 227 ribu orang. Pada periode yang sama, jumlah penduduk berusia di atas 65 tahun mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, yaitu 27 persen dan diperkirakan meningkat sampai 40 persen pada 2050.

Mei lalu, rasio ketersediaan pekerjaan pun mencapai titik tertinggi selama 44 tahun terakhir 160 lowongan untuk setiap 100 pekerja.

Artinya, saat ini terdapat banyak sekali lowongan pekerjaan yang tak cocok untuk penduduk usia lanjut, tapi di satu sisi juga tidak diinginkan generasi muda.

"Sangat serius," kata Shihoko Goto, peneliti senior di lembaga riset berbasis di AS, Woodrow Wilson Center, menanggapi persoalan itu.

Namun Goto mengatakan, selama ini keran imigrasi tidak dianggap sebagai solusi tepat untuk sejumlah permasalahan yang dihadapi Jepang.

Baca juga: Wajib Tahu Gengs! Laporan Pajak Sekarang Harus Gunakan e-Filing, Buruan Register

Ketika sejumlah pelaku bisnis dan politikus mendukung rencana Shinzo Abe soal imigran, beberapa pihak lain mempertanyakan efektivitas kebijakan itu.

Ajang Olimpiade 2020 Tokyo yang semakin dekat membuat kebutuhan tenaga kerja produktif semakin darurat.

Seiring populasi yang semakin tua dan hajatan Olimpiade yang semakin dekat, tekanan untuk mendatangkan pekerja dari luar negeri terus menguat.

Sementara itu, pemerintah Jepang sepertinya akan menghabiskan 2019 untuk bergelut tentang solusi pekerja asing. Sebelum pro dan kontra itu selesai, persoalan tenaga kerja masih akan tetap ada.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More