Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Pola Musiman Imlek Dinilai Berpotensi Dorong Harga Bitcoin Menuju 100.000 Dolar AS pada 2026

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pola Musiman Imlek Dinilai Berpotensi Dorong Harga Bitcoin Menuju 100.000 Dolar AS pada 2026
Foto: (Sumber: Ilustrasi - harga Bitcoin di aplikasi Pluang.)

Pantau - Analisis tren historis pasar kripto menunjukkan adanya pola musiman yang konsisten, di mana perayaan Imlek kerap dikaitkan dengan potensi apresiasi harga Bitcoin, termasuk menjelang Imlek pada 17 Februari 2026 yang bertepatan dengan Tahun Kuda Api.

Pola Historis Imlek dan Pergerakan Bitcoin

Sektor keuangan kripto selama ini kerap dianggap penuh anomali, namun analisis sepuluh tahun terakhir menunjukkan adanya ritme sistematis yang dipengaruhi perilaku sosial dan likuiditas regional.

Salah satu fenomena yang menjadi perhatian pelaku pasar global adalah korelasi positif antara perayaan Imlek dan kinerja aset digital, terutama Bitcoin.

Secara historis, harga Bitcoin sering mengalami koreksi atau stagnasi sekitar dua hingga empat minggu sebelum Imlek akibat meningkatnya kebutuhan uang tunai masyarakat Asia.

Menurut Jason Gozali selaku Kepala Riset Pluang, Imlek memicu migrasi manusia terbesar di dunia yang mendorong kebutuhan dana besar untuk transportasi, jamuan, dan tradisi pemberian “Angpao”.

Ia menjelaskan, “Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, investor ritel hingga investor besar di Asia kerap melakukan aksi jual Bitcoin ke mata uang fiat,” ungkapnya.

Tekanan jual ini membuat pasar kripto cenderung melemah pada akhir Januari hingga awal Februari.

Setelah perayaan dimulai dan libur panjang delapan hari berlangsung pada 15 hingga 23 Februari 2026, tekanan jual mereda dan pasar memasuki fase pemulihan.

Pada periode ini terjadi “Efek Jaringan” yang ditandai meningkatnya diskusi keluarga mengenai masa depan keuangan dan investasi.

Menurut firma riset Matrixport, “Bitcoin sebagai mata uang berbasis jaringan sangat bergantung pada perluasan jumlah pengguna,” ungkapnya.

Cerita keuntungan investasi saat mudik dinilai memicu minat beli baru dari lingkungan keluarga dan sosial.

Dana sisa perayaan, bonus tahunan, serta akumulasi uang Angpao berpotensi kembali mengalir ke pasar kripto.

Faktor Global dan Proyeksi Imlek 2026

Data Pluang Research menunjukkan strategi membeli Bitcoin tiga hari sebelum Imlek dan menjual sepuluh hari setelahnya memiliki tingkat keberhasilan 83 persen sejak 2015.

Rata-rata tingkat pengembalian investasi dari strategi tersebut tercatat sekitar 11 persen hanya dalam periode dua minggu.

Pada studi kasus 2024, harga Bitcoin sempat turun ke kisaran 38.000 dolar AS sebelum Imlek dan melonjak hingga 56.650 dolar AS atau naik sekitar 33 persen sepuluh hari setelah perayaan.

Data tersebut menegaskan adanya pola musiman yang dipengaruhi perilaku manusia dan dapat diprediksi.

Tahun 2026 menghadirkan kompleksitas tambahan karena perayaan Imlek berdekatan dengan rapat Federal Open Market Committee.

Keputusan suku bunga oleh Federal Reserve dinilai menjadi faktor penentu utama arah likuiditas global.

Jika Federal Reserve bersikap lunak, likuiditas global berpotensi meningkat dan menjadi pendorong utama kenaikan harga Bitcoin pasca-Imlek.

Sebaliknya, jika kebijakan moneter tetap ketat akibat inflasi, potensi kenaikan musiman dapat tertahan.

Sinkronisasi sentimen investor ritel Asia dan investor institusional Amerika Serikat dinilai krusial untuk menentukan arah pasar.

Dalam astrologi Tiongkok, Kuda Api melambangkan energi besar, kecepatan, dan keberanian mengambil risiko yang kerap dikaitkan dengan pergerakan pasar yang cepat dan eksplosif.

Pada Februari 2026, harga Bitcoin berada di kisaran 77.885 dolar AS dan diproyeksikan berpotensi pulih menuju level 100.000 dolar AS.

Kekhawatiran terhadap larangan kripto di Tiongkok dinilai semakin berkurang seiring aktivitas perdagangan yang tetap berjalan melalui mekanisme Over the Counter.

Dominasi Tiongkok dalam ekosistem blockchain global tercermin dari penguasaan sekitar 84 persen paten aplikasi blockchain dunia.

Bitcoin kini dipandang telah bertransformasi menjadi aset makro global dengan fondasi harga yang lebih kuat berkat adopsi institusional, termasuk melalui ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat.

Fenomena Imlek dinilai mencerminkan sinergi kebiasaan sosial Asia dan aset digital modern yang berdampak global.

Penulis :
Ahmad Yusuf