Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Kementan Targetkan Investasi Peternakan Sapi 200 Ribu Ekor di Kalimantan Tengah untuk Perkuat Swasembada

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kementan Targetkan Investasi Peternakan Sapi 200 Ribu Ekor di Kalimantan Tengah untuk Perkuat Swasembada
Foto: (Sumber: Arsip - Salah satu peternakan penggemukan sapi yang ada di Kecamatan Pandih Batu, Rabu (5/2/2025). ANTARA/Arief Suseno.)

Pantau - Kementerian Pertanian menargetkan investasi peternakan sapi skala besar di Kalimantan Tengah dengan populasi hingga 200 ribu ekor dalam ekosistem usaha terintegrasi guna memperkuat pasokan daging nasional secara berkelanjutan.

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menyatakan langkah tersebut merupakan bagian dari strategi nasional mempercepat swasembada daging dan susu serta membangun sentra peternakan modern berbasis kemitraan.

"Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional mempercepat swasembada daging dan susu sekaligus membangun sentra peternakan modern berbasis kemitraan," kata Andi Amran Sulaiman.

Program itu menjadi bagian agenda jangka panjang pemerintah untuk memperkuat kedaulatan protein hewani menuju Indonesia Emas 2045.

Pengembangan Terpadu di Sukamara

Pengembangan kawasan difokuskan di peternakan terpadu Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah, di atas lahan sekitar 40.006 hektare dengan populasi awal kurang dari 1.000 ekor sapi.

"Dan target pengembangan hingga 200.000 indukan produktif," ujarnya.

Konsep Integrated Cattle Industry menggabungkan sapi potong, sapi perah, dan industri pengolahan dalam satu kawasan.

Model tersebut diperkuat dengan integrated farming sapi dan kelapa sawit melalui penggembalaan di area perkebunan untuk efisiensi pakan dan produksi pupuk organik.

Sistem pengembangan menggunakan penggembalaan modern berbasis penelitian rumput adaptif lahan marginal.

Fasilitas pengolahan daging dan produk susu serta infrastruktur kawasan disiapkan untuk menjamin operasional yang efisien dan berkelanjutan.

Kemitraan Inti-Plasma dan Penyederhanaan Regulasi

Amran menegaskan Indonesia sebagai negara agraris harus mampu mengoptimalkan potensi peternakan secara mandiri dan berkelanjutan.

“Indonesia ini negeri agraris. Tanahnya luas, rumput tumbuh, sumber daya ada. Yang penting bagaimana kita kelola dengan baik dan kita buat nyaman para investor untuk bergerak cepat. Saya harap 100 ribu untuk pengembangan dan ditambah 100 ribu plasma, jadi 200 ribu,” ujarnya.

Ia menilai percepatan investasi bergantung pada penyederhanaan regulasi dan kepastian usaha.

“Indonesia adalah negeri agraris yang besar. Tanahnya subur, alamnya luas. Tapi kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah, akhirnya kita lambat sendiri. Padahal pelihara sapi itu sederhana. Tanam rumput, sapi minum, hidup, selesai. Yang bikin ribet kadang izinnya,” lanjut Amran.

“Kalau investor itu nyaman, dia akan tanam lebih besar. Tapi kalau tidak nyaman, dua kali maju, dua kali mundur. Sepuluh tahun habis di izin. Ini yang harus kita benahi,” tegasnya.

Pemerintah menyiapkan pola kemitraan inti–plasma agar perusahaan besar bermitra dengan peternak rakyat serta dukungan pembiayaan melalui kredit usaha rakyat sektor pertanian dan perlindungan asuransi.

“Kalau dikelola bersama, inti kuat, plasma tumbuh, maka ekonomi bergerak. Negara hadir mendukung pembiayaan dan perlindungan. Pengusaha berkembang, masyarakat ikut sejahtera,” tegasnya.

Target pengembangan diarahkan untuk meningkatkan populasi indukan produktif, memperkuat produksi daging dan susu nasional, menyerap tenaga kerja lokal, dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah sekitar.

Penulis :
Aditya Yohan