Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Arus Modal Volatile, Ekonom Kompak Prediksi BI-Rate Tetap 4,75 Persen

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Arus Modal Volatile, Ekonom Kompak Prediksi BI-Rate Tetap 4,75 Persen
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww/am..)

Pantau - Sejumlah ekonom memproyeksikan BI-Rate tetap bertahan di level 4,75 persen menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Kamis siang di tengah tekanan dan volatilitas arus modal dalam beberapa minggu terakhir.

Chief Economist BSI Banjaran Surya menilai nilai tukar rupiah masih menghadapi potensi tekanan sehingga mempertahankan suku bunga acuan menjadi langkah tepat.

“Walaupun inflasi relatif terjaga, BI juga perlu mempertahankan daya tarik yield surat berharga dibanding yang lain. Di sisi lain, pengaruh MSCI membuat aliran modal melalui pasar saham cenderung tertahan,” ujarnya.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia meningkatkan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada Februari 2026 dengan operasi moneter yang bersifat kontraktif.

Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman menyoroti tekanan pasca peringatan dari Morgan Stanley Capital International terkait isu free float serta revisi outlook Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risk premium dan volatilitas arus modal sehingga ruang penurunan suku bunga masih terbatas.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mencatat sejak pengumuman MSCI terjadi arus modal keluar dari pasar saham sebesar 1,01 miliar dolar AS dan dari pasar obligasi sebesar 0,37 miliar dolar AS sejak perubahan outlook Moody’s.

Secara kumulatif, arus modal keluar dalam 30 hari terakhir mencapai 1,06 miliar dolar AS.

Imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun naik 6 basis poin dari 6,31 persen pada 19 Januari 2026 menjadi 6,40 persen per 13 Februari 2026, sedangkan tenor 1 tahun naik 20 basis poin dari 4,67 persen menjadi 4,87 persen.

Untuk mengurangi tekanan, BI meningkatkan kepemilikan surat utang pemerintah sehingga depresiasi rupiah relatif terbatas.

Rupiah hanya melemah 0,27 persen sejak akhir bulan lalu dan bahkan menguat 0,44 persen secara month to month dalam 30 hari terakhir, meski terdepresiasi 0,84 persen secara year to date dan 3,74 persen secara year on year dalam satu tahun terakhir.

Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55 persen secara year on year atau sedikit di luar target BI sebesar 1,5 persen hingga 3,5 persen dan tekanan diperkirakan berlanjut menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

Kepala Ekonom BCA David Sumual menilai BI dan The Fed akan cenderung mempertahankan suku bunga acuan setidaknya hingga akhir kuartal pertama tahun ini.

Ia menilai risiko perlambatan ekonomi Amerika Serikat serta koreksi harga aset dapat membuka ruang penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.

Penulis :
Aditya Yohan