
Pantau - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menyatakan Provinsi Bengkulu berpeluang besar memperkuat transisi menuju pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim (PRKBI).
Pernyataan tersebut disampaikan Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A. A. Teguh Sambodo dalam agenda “Dialog Kebijakan Tingkat Provinsi Bengkulu: Memperkuat Kolaborasi Multipihak dalam Akselerasi Pembangunan Rendah Karbon Berketahanan Iklim”.
“Bengkulu memiliki sumber daya alam yang melimpah, serta berpeluang besar untuk memperkuat transisi menuju pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim untuk mencapai target-target pembangunan yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045,” ujarnya.
Dialog tersebut digelar Bappenas bersama Foreign, Commonwealth & Development Office dengan dukungan Oxford Policy Management dan organisasi masyarakat sipil.
Kegiatan itu dimanfaatkan sebagai ruang bersama untuk menyelaraskan agenda pembangunan berkelanjutan khususnya PRKBI serta memastikan kesiapan daerah dalam mendukung target nasional melalui sinergi lintas pemerintah pusat, daerah, legislatif, swasta, dan masyarakat sipil.
Bengkulu menjadi satu dari empat provinsi percontohan atau pilot implementasi PRKBI di tingkat subnasional.
Tiga provinsi lainnya adalah Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku.
Dari sektor Agriculture, Forestry, and Other Land Use (AFOLU), Bengkulu memiliki kawasan hutan seluas 928.863 hektare atau sekitar 46 persen dari luas daratan.
Dari total luas tersebut, 49,58 persen merupakan hutan konservasi dan 27,8 persen adalah hutan lindung.
"Kawasan hutan ini menjadi mekanisme utama serapan karbon," kata Teguh.
Bengkulu juga memiliki garis pantai sekitar 525 kilometer di sepanjang Samudra Hindia serta 100 kilometer keliling Pulau Enggano.
Kondisi tersebut menunjukkan potensi besar Bengkulu di sektor perikanan dan kelautan dalam mendukung pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







