Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Kemendag Sebut Surplus Pasokan Global Picu Penurunan Harga Biji Kakao pada April 2026

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kemendag Sebut Surplus Pasokan Global Picu Penurunan Harga Biji Kakao pada April 2026
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Petani memilah biji kakao di Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Rabu (23/9/2020). (ANTARA/Siswowidodo).)

Pantau - Kementerian Perdagangan menyatakan harga referensi (HR) biji kakao pada April 2026 mengalami penurunan signifikan akibat surplus pasokan global yang tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana mengatakan HR biji kakao periode April 2026 ditetapkan sebesar 3.190,63 dolar AS per metrik ton (MT), turun 856,82 dolar AS atau 21,17 persen dibandingkan periode Maret 2026.

Penurunan tersebut juga berdampak pada turunnya Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao pada April 2026 menjadi 2.886 dolar AS per MT atau turun 836 dolar AS atau 22,46 persen dari bulan sebelumnya.

“Penurunan HR dan HPE biji kakao dipengaruhi peningkatan suplai seiring dengan membaiknya produksi di negara produsen utama, yang tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan,” ungkap Tommy dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan bahwa bea keluar (BK) biji kakao untuk periode 1 hingga 30 April 2026 mengacu pada Kolom Angka 3 Lampiran Huruf B PMK Nomor 38 Tahun 2024 juncto PMK Nomor 68 Tahun 2025 dengan tarif sebesar 5 persen.

Sementara itu, pungutan ekspor (PE) biji kakao untuk periode yang sama merujuk pada Lampiran Huruf C PMK Nomor 69 Tahun 2025 juncto PMK Nomor 9 Tahun 2026 dengan besaran 5 persen.

Pergerakan Harga Komoditas Lain

Kemendag juga mencatat sejumlah perubahan harga pada komoditas ekspor lainnya untuk periode April 2026.

Harga Patokan Ekspor produk kulit tidak mengalami perubahan dibandingkan periode Maret 2026.

Sementara itu, HPE getah pinus pada April 2026 meningkat menjadi 916 dolar AS per MT atau naik 13 dolar AS atau 1,44 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Selain itu, HPE produk kayu mengalami kenaikan pada beberapa jenis seperti veneer dari hutan alam dan hutan tanaman, wooden sheet for packing box, serta kayu olahan dengan luas penampang 1.000 hingga 4.000 mm² dari jenis meranti, rimba campuran, eboni, serta kayu dari hutan tanaman seperti pinus, gemelina, akasia, sengon, karet, balsa, dan eucalyptus.

Namun, HPE mengalami penurunan pada kayu olahan dengan luas penampang 1.000 hingga 4.000 mm² dari jenis merbau dan sortimen lainnya dari jenis jati.

Kemendag juga menyebut tidak terdapat perubahan HPE untuk komoditas wood in chips or particle, chipwood, serta kayu olahan dari jenis hutan tanaman seperti sungkai dan kayu olahan khusus merbau dengan luas penampang 4.000 hingga 10.000 mm² pada periode April 2026.

Penulis :
Ahmad Yusuf