HOME  ⁄  Ekonomi

Optimalisasi Limbah Sawit Dinilai Pakar IPB Mampu Perkuat Ketahanan Ekonomi Nasional

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Optimalisasi Limbah Sawit Dinilai Pakar IPB Mampu Perkuat Ketahanan Ekonomi Nasional
Foto: (Sumber : Petugas menunjukkan instalasi pipa dan unit pengolahan limbah pabrik kelapa sawit di Biogas Plant PT Sukses Karya Mandiri, Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah, Rabu (10/12/2025). ANTARA/Shofi Ayudiana.)

Pantau - Pakar ilmu tanah IPB University Basuki Sumawinata menyebut optimalisasi limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) dapat menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pupuk kimia impor sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Limbah Sawit sebagai Sumber Nutrisi Strategis

Basuki menjelaskan limbah sawit seharusnya tidak lagi dipandang sebagai bahan buangan, melainkan sumber nutrisi yang dapat dimanfaatkan kembali dalam sistem pertanian.

"Jika dikelola dengan pendekatan ilmiah yang tepat, limbah tersebut berpotensi menggantikan sebagian kebutuhan pupuk kimia yang selama ini masih bergantung pada impor," ujarnya.

Ia mengungkapkan Indonesia memproduksi sekitar 50 juta ton minyak sawit per tahun yang menghasilkan sekitar 100 juta ton limbah dengan nilai Biological Oxygen Demand (BOD) rata-rata 25.000 ppm.

Menurutnya, limbah tersebut mengandung unsur hara lengkap seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, hingga unsur mikro yang bermanfaat bagi tanaman.

Dampak Ekonomi dan Tantangan Regulasi

Basuki menilai pemanfaatan LCPKS dapat menekan biaya produksi perkebunan sekaligus meningkatkan daya saing industri sawit nasional.

"Pemanfaatan LCPKS bukan sekadar solusi limbah. Ini strategi memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui efisiensi nutrisi dan pengurangan impor," katanya.

Ia juga menyoroti kebijakan pengolahan limbah dengan standar BOD sangat rendah berpotensi menghilangkan nilai ekonominya karena kandungan karbon organik menjadi berkurang signifikan.

"Jika diterapkan (BOD di bawah 100 mg/l) pada seluruh LCPKS di Indonesia maka hal itu dapat dipandang sebagai pemborosan uang negara karena hampir seluruh kebutuhan pupuk di Indonesia berasal dari pupuk impor," katanya.

Basuki menekankan pentingnya regulasi yang seimbang antara perlindungan lingkungan dan produktivitas pertanian agar limbah sawit dapat dimanfaatkan secara optimal.

Penulis :
Aditya Yohan