HOME  ⁄  Ekonomi

Industri Tekstil Indonesia Diyakini Masuki Fase Sunrise di Tengah Tantangan Global

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Industri Tekstil Indonesia Diyakini Masuki Fase Sunrise di Tengah Tantangan Global
Foto: Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita membuka pameran Intertex-Inatex 2026 di Jakarta, Rabu 15/4/2026 (sumber: ANTARA/AMuzdaffar Fauzan)

Pantau - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia kini memasuki fase perkembangan pesat atau sunrise.

Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka pameran Indo Intertex-Inatex 2026 di Jakarta pada Rabu, 15 April 2026.

Ia menegaskan bahwa narasi lama yang menyebut sektor tekstil sebagai industri sunset perlu diubah menjadi pandangan yang lebih optimistis.

"Menurut data yang kami terima bahwa kita sudah bisa mulai memutarbalikkan narasi yang menyatakan bahwa sektor TPT di Indonesia ini merupakan sektor yang sunset, bahkan kita secara optimis harus berani mengatakan it's a sunrise," ungkapnya.

Kinerja Industri dan Kontribusi Ekonomi

Optimisme tersebut didasarkan pada kinerja industri yang tetap tumbuh di tengah kondisi global yang kompleks.

Fundamental ekonomi Indonesia dinilai kuat dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,11 persen pada tahun 2025.

Sektor industri pengolahan tercatat tumbuh sebesar 5,30 persen atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Industri pengolahan juga memberikan kontribusi sebesar 19,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional.

Selain itu, sektor ini mendominasi ekspor nasional dengan kontribusi sebesar 84,89 persen dari total ekspor.

Industri pengolahan turut menyerap tenaga kerja sebanyak 20,31 juta orang.

Khusus sektor tekstil dan produk tekstil, pertumbuhan pada tahun 2025 tercatat sebesar 3,55 persen secara tahunan.

Nilai ekspor sektor tekstil mencapai 12,08 miliar dolar Amerika Serikat dengan surplus perdagangan sebesar 3,45 miliar dolar Amerika Serikat.

Kinerja ekspor tersebut terutama didorong oleh peningkatan ekspor pakaian jadi.

Dari sisi investasi, sektor tekstil mencatat realisasi sebesar Rp20,23 triliun.

Penyerapan tenaga kerja di sektor ini mencapai 3,96 juta orang atau sekitar 19,48 persen dari total tenaga kerja industri pengolahan.

Tantangan Global dan Strategi Pemerintah

Meski memiliki prospek cerah, sektor tekstil masih menghadapi berbagai tantangan global.

Tantangan tersebut meliputi kenaikan harga bahan baku, gangguan rantai pasok, dan perubahan permintaan pasar internasional.

Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha untuk mengantisipasi berbagai tantangan tersebut.

Pameran Indo Intertex-Inatex 2026 juga berfungsi sebagai ajang business matching antara pelaku industri nasional dan internasional.

Kegiatan tersebut membuka peluang kerja sama dan investasi baru di sektor tekstil.

"Pameran ini kita tunjukkan pada seluruh masyarakat baik di Indonesia maupun di dunia sebagai platform optimism," ujarnya.

Pemerintah berkomitmen memperkuat industri tekstil melalui kebijakan strategis.

Kebijakan tersebut mencakup perluasan akses pasar domestik dan ekspor serta pemberian fasilitas fiskal dan nonfiskal.

Penguatan industri dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.

Ke depan, pengembangan industri difokuskan pada percepatan adopsi teknologi industri 4.0.

Selain itu, prinsip keberlanjutan diterapkan dalam proses produksi untuk meningkatkan daya saing.

Industri juga diarahkan menghasilkan produk bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar global.

Penulis :
Shila Glorya