HOME  ⁄  Ekonomi

POPSI Minta DSI Fokus Awasi dan Transparansi Data Ekspor Sawit

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

POPSI Minta DSI Fokus Awasi dan Transparansi Data Ekspor Sawit
Foto: (Sumber : Petani memetik tanda buah segar (TBS) kelapa sawit saat panen di area perkebunan kelapa sawit miliknya di Desa Suak Raya, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Selasa (23/9/2025). (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/bar).)

Pantau - Perhimpunan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) meminta Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) lebih fokus pada pengawasan administratif dan transparansi data ekspor sawit dibanding menjalankan sentralisasi ekspor.

POPSI Soroti Penurunan Harga TBS Sawit

Ketua Umum POPSI Mansuetus Darto mengatakan peran DSI sebaiknya diarahkan pada pencatatan, dokumentasi, monitoring, transparansi data ekspor, hingga pengawasan administratif.

“Alternatif lainnya, dia mengusulkan agar rencana sentralisasi ekspor sawit dibatalkan demi menyelamatkan jutaan petani sawit di daerah,” kata Mansuetus dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Pernyataan itu disampaikan menyusul turunnya harga tandan buah segar (TBS) sawit di sejumlah daerah sentra produksi hingga menyentuh Rp1.500 per kilogram.

Mansuetus menilai pemerintah perlu segera memberikan kejelasan arah kebijakan agar tidak memicu kepanikan pasar, spekulasi, dan penurunan aktivitas perdagangan yang berdampak langsung pada harga crude palm oil (CPO) serta harga TBS petani.

“Yang paling dirugikan bukan pelaku under invoicing, melainkan petani sawit yang harga jualnya tergerus jauh ke bawah akibat pasar yang tidak stabil,” ujarnya.

Menurut dia, industri sawit menyangkut kehidupan sekitar 17 juta orang mulai dari petani, buruh, pekerja transportasi, pelaku UMKM, hingga masyarakat di daerah sentra sawit.

Petani Khawatir Produktivitas Sawit Menurun

Berdasarkan data Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), harga TBS di Kalimantan Barat turun sekitar Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram.

Di Mamuju, Sulawesi Barat, harga TBS yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.800 per kilogram kini anjlok menjadi sekitar Rp1.000 per kilogram.

Sementara di Labuhanbatu, Sumatera Utara, harga TBS juga turun hingga Rp1.500 per kilogram.

Ketua SPKS Sabarudin meminta pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan pasar karena petani terus mengalami kerugian besar akibat anjloknya harga sawit.

Menurut Sabarudin, kebijakan ekspor satu pintu berpotensi membuka ruang monopsoni yang dapat menekan harga TBS di tingkat petani.

“Petani trauma dengan kejadian tahun 2015 saat harga TBS jatuh di bawah Rp1.000 per kilogram. Waktu itu banyak petani sampai menebang sawit dan mengganti lahannya ke komoditas lain karena sudah tidak mampu bertahan,” ungkap Sabarudin.

Ia menilai jika kondisi tersebut berlangsung lama maka produktivitas kebun rakyat akan menurun akibat minim pemupukan dan banyak petani meninggalkan sektor sawit.

Penulis :
Ahmad Yusuf