
Pantau - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti solar CN 51 dan CN 53 merupakan hal yang wajar karena mengikuti kondisi harga minyak di pasar global pada awal Mei 2026.
Ia menyampaikan, "BBM nonsubsidi harus menyesuaikan dengan kondisi harga di pasaran. Jadi, tidak heran kalau ada kenaikan harga BBM nonsubsidi," ungkapnya.
Eddy yang juga anggota Komisi XII DPR berpandangan bahwa harga BBM nonsubsidi memang tidak diatur pemerintah seperti BBM bersubsidi.
BBM bersubsidi yang dimaksud antara lain Pertalite dan solar subsidi yang tetap mendapat intervensi pemerintah.
Ia menambahkan, "Kalau dibiarkan dengan harga lama, tentu akan menjadi beban bagi Pertamina dan juga APBN. Bagi badan usaha swasta, saya rasa mungkin juga sama," ujarnya.
Penyesuaian Harga oleh Pertamina dan Swasta
Penyesuaian harga BBM dilakukan oleh Pertamina dan perusahaan swasta seperti BP Indonesia serta VIVO pada awal Mei 2026.
BP menetapkan harga BP Ultimate Diesel CN 51 menjadi Rp30.890 per liter dari sebelumnya Rp25.560 per liter.
VIVO juga menetapkan harga Primus Plus CN 51 pada angka Rp30.890 per liter.
Pertamina turut menaikkan harga sejumlah BBM di wilayah Jabodetabek.
Harga Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.900 per liter dari Rp19.400 per liter.
Harga Dexlite naik menjadi Rp26.000 per liter dari Rp23.600 per liter.
Harga Pertamina Dex meningkat menjadi Rp27.900 per liter dari Rp23.900 per liter.
Dorongan Ketahanan Energi dan Transisi Energi
Eddy menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi bukan hal yang mengagetkan karena mengikuti mekanisme pasar dan dapat kembali turun jika harga minyak dunia menurun.
Ia mendorong pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional agar tidak rentan terhadap krisis global.
Pemerintah diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi impor yang masih tinggi.
Ia menyampaikan, "Bagaimanapun, dengan ketergantungan yang masih tinggi terhadap energi fosil, khususnya yang dipengaruhi oleh pasar global, maka setiap gejolak harga minyak dunia akan selalu berpotensi menekan perekonomian kita," jelasnya.
Eddy menekankan pentingnya percepatan pengembangan energi terbarukan seperti panas bumi, tenaga surya, angin, dan bioenergi.
Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mengurangi dampak fluktuasi harga global.
Selain itu, transisi energi juga dinilai penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Ia menegaskan, "Saya yakin dan percaya urgensi mewujudkan ketahanan energi sama pentingnya dengan upaya mewujudkan ketahanan nasional. Transisi energi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan," tegasnya.
- Penulis :
- Shila Glorya





