
Pantau - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai gejolak geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas mitra dagang strategis.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga tren surplus neraca perdagangan di tengah ketidakpastian global.
Ekonom Indef Eko Listiyanto menyebut Indonesia perlu mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu.
"Ini saatnya Indonesia melebarkan partner-partner dagang strategis, tidak hanya dengan Amerika Serikat," ungkapnya.
Diversifikasi Mitra untuk Jaga Surplus Perdagangan
Eko menjelaskan perluasan kerja sama dagang dapat dilakukan dengan menjajaki pasar di kawasan Asia dan Eropa.
Menurutnya, kedua kawasan tersebut relatif stabil sehingga berpotensi menjadi tujuan ekspor baru bagi Indonesia.
"Salah satu cara menurut saya ke depan yang bisa dilakukan dengan situasi ini supaya neraca dagang kita tetap bagus adalah memperlebar para mitra strategis, berkunjung ke banyak negara kawasan Eropa dan Asia," ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia telah mencatat surplus neraca perdagangan selama 71 bulan berturut-turut hingga Maret 2026.
Ekspor Nonmigas Jadi Penopang Utama
Surplus perdagangan Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,32 miliar dolar AS, didorong oleh sektor nonmigas.
Komoditas utama penopang ekspor meliputi lemak dan minyak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Secara kumulatif Januari hingga Maret 2026, surplus perdagangan mencapai 5,55 miliar dolar AS.
Sementara itu, sektor migas masih mencatat defisit akibat tingginya impor minyak mentah dan produk turunannya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





