
Pantau - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut penyerapan beras dari petani dalam negeri tanpa impor mendorong kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) pada awal 2026.
Penyerapan dan Produksi Beras Nasional
Hal ini terjadi seiring meningkatnya produksi beras nasional serta upaya pemerintah menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa peningkatan produksi membuat pendapatan petani ikut naik dan berdampak pada kesejahteraan petani.
Realisasi pengadaan setara beras hingga awal Mei 2026 melampaui periode Januari hingga Mei 2025.
Per 3 Mei 2026, Bulog telah menyerap 2,53 juta ton setara beras atau 63,3 persen dari target tahunan sebesar 4 juta ton.
Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi penyerapan beras pada periode Januari hingga Mei 2025 yang berada di angka sekitar 2,47 juta ton.
Stok Pangan, Swasembada, dan Dampak Ekonomi Petani
Pemerintah menegaskan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras sejak akhir 2025 sehingga tidak lagi melakukan impor beras umum untuk konsumsi masyarakat.
Namun masih terdapat impor dalam jumlah sangat kecil untuk jenis beras khusus seperti basmati yang tidak dapat ditanam di Indonesia.
Pemerintah menjelaskan bahwa yang dimaksud swasembada adalah pada beras medium yang menjadi konsumsi utama masyarakat Indonesia.
Stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog tetap berada dalam kondisi kuat meskipun tanpa impor besar sejak 2025.
Sepanjang tahun 2025, serapan beras dari produksi dalam negeri mencapai 3,4 juta ton dan memperkuat stok cadangan pangan nasional.
Beras tersebut disalurkan kepada masyarakat melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan harga di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).
Pada April 2026, penjualan beras SPHP mencapai 107,9 ribu ton dan meningkat dibandingkan realisasi Maret 2026 yang sebesar 66,8 ribu ton.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa produksi beras nasional hingga Juni 2026 diproyeksikan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan produksi tersebut berdampak pada kenaikan NTP subsektor tanaman pangan dan tanaman perkebunan rakyat masing-masing sebesar 0,43 persen dan 1,62 persen pada April 2026.
NTP tanaman pangan pada April 2026 tercatat sebesar 112,29 naik dari 111,81 pada Maret 2026 dan telah bertahan di atas angka 100 sejak 2022.
Kenaikan NTP terutama didorong oleh kelompok petani padi dengan indeks harga yang diterima petani meningkat dari 144,58 pada Maret menjadi 145,37 pada April.
BPS juga memproyeksikan produksi beras Januari hingga Juni 2026 mencapai 19,31 juta ton atau naik 0,26 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
- Penulis :
- Shila Glorya





