
Pantau - Masyarakat nelayan di Desa Sawang Laut, Pulau Kundur, Kepulauan Riau mulai membangun sumber ekonomi baru melalui berbagai usaha produktif untuk mengurangi ketergantungan terhadap hasil tangkapan laut yang tidak menentu.
Perubahan tersebut dilakukan melalui kelompok warga bernama Tuah Bersatu yang mengembangkan usaha budidaya ikan, hidroponik, hingga peternakan ayam petelur di kawasan pesisir desa.
Langkah itu muncul dari kebutuhan masyarakat nelayan untuk memiliki sumber pendapatan tambahan saat cuaca buruk dan hasil tangkapan laut menurun.
Berawal dari Kegelisahan Nelayan
Ketua Kelompok Tuah Bersatu, Amran, mengungkapkan ide membangun usaha alternatif lahir dari kondisi ekonomi nelayan yang selama bertahun-tahun hanya bergantung pada laut.
Setelah aktivitas melaut selesai, sebagian besar warga tidak memiliki usaha tambahan untuk menopang kebutuhan keluarga.
Kondisi tersebut membuat masyarakat mulai mencari cara memanfaatkan lahan pesisir yang sebelumnya terbengkalai agar lebih produktif.
Kelompok Tuah Bersatu kemudian memulai budidaya ikan kakap putih pada 2022 dan mulai berjalan aktif sejak 2023.
Pengembangan usaha dilakukan bertahap sesuai kemampuan kelompok dan kondisi lingkungan setempat.
Kembangkan Hidroponik hingga Bank Sampah
Setelah budidaya kakap putih berjalan, masyarakat mulai mengembangkan usaha lain seperti hidroponik dan produksi terasi.
Kelompok warga juga membangun peternakan ayam petelur sebagai tambahan sumber pendapatan keluarga nelayan.
Selain itu, mereka mulai mempersiapkan program bank sampah untuk mendukung pengelolaan lingkungan desa pesisir.
Perubahan di Desa Sawang Laut menunjukkan pembangunan ekonomi masyarakat pesisir dapat dimulai dari pemanfaatan potensi lokal yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
Dari desa yang awalnya hanya bergantung pada hasil laut, masyarakat kini mulai membangun harapan baru melalui kerja bersama dan pengelolaan potensi desa secara berkelanjutan.
- Penulis :
- Aditya Yohan





