
Pantau - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mendorong pemerintah menerapkan kebijakan insentif industri yang berbasis pada kontribusi terhadap perekonomian nasional.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur mengatakan kebijakan tersebut penting untuk menciptakan iklim usaha yang sehat sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.
Menurut dia, pemberian insentif seharusnya didasarkan pada kontribusi perusahaan terhadap ekonomi nasional, seperti peningkatan ekspor, penciptaan lapangan kerja, investasi teknologi, hingga penguatan devisa negara.
“Pandangan kami, insentif seharusnya berbasis kontribusi terhadap ekonomi nasional, bukan semata status perusahaan swasta atau negara,” kata Abdul Sobur dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (7/5).
HIMKI Usulkan Dukungan Fiskal untuk Industri
HIMKI menilai perusahaan dengan peningkatan ekspor signifikan layak mendapatkan insentif fiskal seperti yang diterapkan di China.
Selain itu, industri dengan tingkat serapan tenaga kerja tinggi juga dinilai perlu memperoleh dukungan karena berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja nasional.
Abdul Sobur mengatakan perusahaan yang melakukan investasi pada mesin dan teknologi baru juga layak memperoleh tax allowance maupun pembiayaan murah.
HIMKI turut mendorong adanya relaksasi bagi merger industri yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan daya saing usaha nasional.
Penguatan Ekspor Dinilai Tingkatkan Devisa
HIMKI juga mengusulkan dukungan fiskal bagi perusahaan atau asosiasi yang membangun pusat ekspor di luar negeri karena dinilai mampu meningkatkan devisa negara secara signifikan.
Menurut Abdul Sobur, dunia usaha di Indonesia harus memiliki kesetaraan dan level playing field yang sehat agar target industrialisasi nasional dapat tercapai.
Ia menilai kebijakan insentif berbasis kontribusi ekonomi akan mendorong industri nasional lebih kompetitif dan produktif di pasar global.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





