
Pantau - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai bond stabilization fund (BSF) efektif menjaga stabilitas pasar surat utang negara ketika tekanan pasar bersifat teknis dan sementara, seperti aksi jual akibat kerugian harga jangka pendek dan aksi jual berantai yang tidak mencerminkan fundamental ekonomi.
BSF Dinilai Mampu Menjaga Likuiditas Pasar
Yusuf mengatakan kehadiran pemerintah sebagai pembeli di pasar obligasi dapat membantu menghentikan kepanikan investor dan memulihkan likuiditas pasar.
"Dalam situasi seperti itu, kehadiran pemerintah sebagai pembeli bisa membantu menghentikan kepanikan dan mengembalikan likuiditas pasar," ungkapnya.
Ia menilai BSF juga efektif ketika pasar mengalami kekurangan pembeli akibat investor memilih bersikap wait and see.
Menurut Yusuf, instrumen tersebut penting untuk mencegah risiko rambatan ke sistem keuangan yang lebih luas karena kepemilikan surat berharga negara (SBN) banyak berada di tangan bank, perusahaan asuransi, dan dana pensiun.
Namun, Yusuf mengingatkan efektivitas BSF menjadi terbatas apabila tekanan pasar berasal dari persoalan fundamental ekonomi.
"Tetapi saya juga harus jujur, efektivitas BSF menjadi jauh lebih terbatas kalau sumber tekanannya berasal dari fundamental," katanya.
Ia menjelaskan kekhawatiran pasar saat ini mulai mengarah pada pelebaran defisit fiskal, pelemahan primary balance, dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Menurut Yusuf, kekhawatiran investor tidak lagi hanya terkait volatilitas jangka pendek, tetapi juga arah kebijakan ekonomi ke depan.
Faktor Global Disebut Menambah Tekanan Pasar
Yusuf menyebut faktor global turut menjadi tekanan tambahan bagi pasar obligasi domestik karena suku bunga Amerika Serikat masih tinggi, yield US Treasury tetap menarik, dan dolar AS masih kuat.
"Belum lagi faktor global. Selama suku bunga AS masih tinggi, yield US Treasury tetap menarik, dan dolar masih kuat, emerging market memang akan menghadapi tekanan. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan BSF juga terbatas karena ia tidak bisa melawan gravitasi pasar global," ujarnya.
Ia memandang BSF sebagai instrumen payung stabilisasi yang sebaiknya sudah disiapkan sebelum pasar memasuki fase kepanikan.
Menurut Yusuf, keberadaan instrumen tersebut lebih baik tersedia dan siap digunakan meski tidak selalu diaktifkan.
Yusuf mencatat yield SBN tenor 10 tahun naik dari sekitar 5,9 persen pada akhir tahun lalu menjadi sekitar 6,7 persen pada April 2026.
Arus keluar dana asing dari pasar obligasi juga mulai terlihat dan memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Meski demikian, Yusuf menilai tekanan pasar saat ini masih relatif terkendali dibandingkan episode krisis sebelumnya.
Korea Selatan Jadi Contoh Penggunaan BSF
Yusuf menyebut Korea Selatan sebagai contoh relevan dalam penggunaan BSF setelah krisis Asia dan saat krisis global 2008.
"Instrumen itu cukup efektif meredam kepanikan jangka pendek. Tetapi yang menarik, Korea tidak hanya mengandalkan stabilisasi pasar," tuturnya.
Ia menjelaskan Korea Selatan juga melakukan reformasi besar di sektor keuangan dan korporasi sehingga BSF hanya menjadi instrumen sementara sambil memperbaiki fundamental ekonomi.
Menurut Yusuf, setelah kondisi lebih stabil, Korea Selatan lebih sering hanya mengumumkan keberadaan dana stabilisasi tanpa penggunaan besar-besaran karena efek psikologis dan kredibilitas kebijakan dinilai lebih penting dibanding intervensi langsung.
Yusuf menambahkan Indonesia juga dapat belajar dari Jepang dan China dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.
Ia menilai Jepang terlalu lama menopang pasar obligasi melalui pengendalian yield sehingga mengalami kesulitan normalisasi saat siklus global berubah.
Sementara itu, China disebut pernah terlalu agresif menopang pasar saham hingga menimbulkan distorsi karena harga aset tidak lagi sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi.
- Penulis :
- Shila Glorya





