
Pantau - Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Dwisuryo Indroyono Soesilo menyatakan Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai pemasok produk kehutanan legal dan berkelanjutan di pasar global, termasuk Amerika Serikat.
Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya permintaan pasar internasional terhadap produk kehutanan yang memiliki rantai pasok transparan dan berkelanjutan.
Indonesia Andalkan Sistem SVLK+
“Indonesia merupakan negara pertama di dunia yang menerapkan sistem legalitas kayu nasional wajib melalui SVLK+,” ungkap Indroyono dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Menurutnya, kebutuhan pasar Amerika Serikat terhadap produk legal dan kompetitif membuka peluang besar bagi industri kehutanan Indonesia untuk memperluas pangsa pasar.
Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan hubungan perdagangan kehutanan Indonesia dan Amerika Serikat telah terjalin lebih dari tiga dekade.
“Kayu lapis Indonesia yang masuk ke Amerika Serikat bukan berasal dari hutan yang dikelola secara ilegal. Produk kami bersertifikat, dapat ditelusuri, dan diverifikasi legalitasnya melalui sistem SVLK+ yang menjadi salah satu sistem paling komprehensif di dunia,” ujar Raja Juli Antoni dalam webinar internasional di Kedubes RI Washington DC.
Ia menjelaskan lebih dari 70 persen ekspor plywood Indonesia ke Amerika Serikat telah mengantongi sertifikasi FSC maupun SVLK+.
Pemerintah Dorong Diversifikasi Produk Kayu
Selain plywood, pemerintah juga mendorong diversifikasi produk kehutanan Indonesia di pasar Amerika Serikat.
Raja Juli Antoni menyebut Indonesia memiliki potensi berbagai jenis kayu yang dapat dimanfaatkan untuk industri konstruksi, furnitur, hingga recreational vehicle (RV).
Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian Kehutanan Laksmi Wijayanti menambahkan sistem SVLK+ terus diperkuat mengikuti perkembangan regulasi global seperti U.S. Lacey Act dan European Union Deforestation Regulation (EUDR).
“SVLK+ membantu pembeli dan importir memahami asal-usul produk serta bagaimana kepatuhan terhadap regulasi dapat dibuktikan secara sistematis,” katanya.
Ketua Umum APHI Soewarso menyebut nilai ekspor produk kayu olahan Indonesia ke Amerika Serikat pada 2025 mencapai sekitar 1,94 miliar dolar AS atau sekitar 15 persen dari total ekspor global produk kayu olahan Indonesia.
“Perubahan lanskap perdagangan global menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi industri hasil hutan,” ujarnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan





