
Pantau - Iran menuding Amerika Serikat memanfaatkan dukungan sejumlah negara terhadap rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB terkait Selat Hormuz untuk membangun citra adanya dukungan internasional atas tindakan Washington terhadap Teheran.
Misi tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menyampaikan tudingan tersebut melalui unggahan di media sosial X pada Jumat (15/5).
Iran menilai rancangan resolusi yang diajukan AS bersifat sepihak dan bermotif politik.
"Kini sudah sangat jelas bahwa AS berupaya mengeksploitasi jumlah dukungan—yang disebut sebagai pendukung rancangan resolusi dengan motivasi politik dan sepihak—untuk menciptakan citra palsu sebagai dukungan luas dari internasional terhadap tindakan ilegal yang sedang berlangsung," tulis misi tetap Iran untuk PBB.
Iran juga menilai langkah AS dilakukan untuk membuka peluang aksi militer lanjutan di kawasan Selat Hormuz.
Iran Peringatkan Negara Pendukung Resolusi
Rancangan resolusi tersebut diumumkan AS bersama Bahrain serta sejumlah negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar.
Resolusi itu disebut bertujuan membela kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Iran memperingatkan negara-negara yang mendukung inisiatif pimpinan AS dapat ikut bertanggung jawab apabila ketegangan regional kembali meningkat.
"Jika AS memicu eskalasi baru, maka semua negara pendukung akan berbagi tanggung jawab internasional bersama Washington atas konsekuensi tersebut," demikian pernyataan Iran.
"Tidak ada alasan politik atau perlindungan diplomatik yang dapat membebaskan mereka dari tanggung jawab karena memfasilitasi, memungkinkan, dan melegitimasi agresi AS," lanjut pernyataan tersebut.
Ketegangan Selat Hormuz Masih Tinggi
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk.
Konflik tersebut juga diiringi penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan.
Namun, perundingan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen.
Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu sambil tetap memberlakukan blokade terhadap kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz.
- Penulis :
- Aditya Yohan






