HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Dibuka Melemah di Tengah Kekhawatiran Suku Bunga Tinggi dan Konflik AS-Iran

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Dibuka Melemah di Tengah Kekhawatiran Suku Bunga Tinggi dan Konflik AS-Iran
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Pengunjung melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jakarta, Jumat (10/4/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada Senin pagi dibuka melemah 94,34 poin atau 1,40 persen ke level 6.628,98 akibat kekhawatiran pasar terhadap era suku bunga tinggi di tengah konflik Amerika Serikat dan Iran.

Sementara itu, indeks LQ45 turut turun 9,37 poin atau 1,42 persen ke posisi 648,51.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan pergerakan IHSG masih dibayangi sentimen global, terutama kenaikan harga minyak mentah dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

“Diperkirakan jika IHSG breakdown level 6.700, berpotensi menguji level 6.500-6.550 pada pekan ini,” ujar Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Konflik Global Tekan Sentimen Pasar

Konflik antara AS dan Iran disebut masih akan mempengaruhi pergerakan bursa global sepanjang pekan ini.

Kenaikan yield US Treasury tenor 30 tahun hingga mencapai 5,1 persen juga memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga global akibat lonjakan harga minyak mentah.

Pelaku pasar turut mencermati rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC Minutes) dari bank sentral AS The Fed untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Selain itu, hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang berakhir tanpa kesepakatan besar turut mengecewakan pasar global.

Investor Pantau RDG BI dan Data Ekonomi

Dari dalam negeri, pelaku pasar menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan tetap mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen pada Rabu (20/5).

Investor juga memantau rilis data pertumbuhan kredit, transaksi berjalan kuartal I-2026, serta jumlah uang beredar atau M2 sepanjang pekan ini.

Di sisi lain, FTSE Russell masih menunda peninjauan ulang pemeringkatan indeks pasar modal Indonesia hingga September 2026.

Mayoritas bursa saham global dan regional Asia pada perdagangan pagi ini juga tercatat melemah mengikuti sentimen negatif pasar internasional.

Penulis :
Ahmad Yusuf