
Pantau - Nilai tukar rupiah berpotensi menguat terhadap dolar Amerika Serikat setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran di tengah peluang tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah.
Pada perdagangan Selasa pagi, rupiah tercatat melemah 17 poin atau 0,10 persen menjadi Rp17.685 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.668 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penundaan serangan AS ke Iran membuat kekhawatiran pasar global mulai mereda.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah meredanya kekhawatiran pasar setelah Trump menunda serangan ke Iran,” ujarnya di Jakarta, Selasa.
Trump Tunda Serangan ke Iran
Mengutip laporan Anadolu, Trump menunda serangan militer terhadap Iran setelah sejumlah negara Timur Tengah menyampaikan keyakinan bahwa kesepakatan penghentian perang hampir tercapai.
Trump menyebut para pemimpin Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan beberapa negara lainnya meminta penundaan serangan karena proses menuju gencatan senjata dinilai semakin dekat.
Meski demikian, Lukman menilai penguatan rupiah masih berpotensi terbatas akibat sentimen domestik yang belum sepenuhnya membaik.
“Walau demikian, penguatan mungkin terbatas mengingat sentimen domestik yang masih lemah serta antisipasi investor pada RDG BI yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga,” katanya.
Investor Tunggu Keputusan Suku Bunga BI
Menurut Lukman, kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang mendorong Bank Indonesia berpeluang menaikkan suku bunga acuan.
“Kenaikan ini diharapkan bisa membuat rupiah kembali menarik,” ujarnya.
Ia memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini berada di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS.
- Penulis :
- Aditya Yohan





