HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Tertekan ke Level Rp17.600, Ekonom Terbelah Soal Arah BI-Rate

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Tertekan ke Level Rp17.600, Ekonom Terbelah Soal Arah BI-Rate
Foto: (Sumber : Iluatrasi - Logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/hp/aa..)

Pantau - Sejumlah ekonom menyampaikan pandangan berbeda terkait arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-Rate di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat.

Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur periode April 2026 pada Rabu siang, termasuk keputusan mengenai suku bunga acuan yang saat ini berada di level 4,75 persen.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai BI layak menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen demi menjaga stabilitas rupiah.

“Prioritas utama Bank Indonesia saat ini harus berfokus pada stabilisasi rupiah,” katanya.

Menurut Riefky, tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik, termasuk arus modal keluar serta kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan fiskal Indonesia.

Ia mencatat Indonesia mengalami capital outflow sebesar 15 juta dolar AS dari pasar saham pada 15 April hingga 12 Mei 2026 serta arus keluar 0,4 miliar dolar AS dari pasar surat berharga negara.

BI Dinilai Hadapi Dilema Stabilitas dan Pertumbuhan

Riefky menilai intervensi Bank Indonesia selama ini belum cukup efektif menahan pelemahan rupiah meski cadangan devisa telah tergerus lebih dari 10 miliar dolar AS dalam empat bulan terakhir.

Ia juga menyoroti kenaikan outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI sekitar Rp214 triliun sepanjang 2026 dengan rata-rata kupon mencapai 6,4 persen pada pertengahan Mei.

Sementara itu, Kepala Ekonom BCA David Sumual berpandangan BI masih berpotensi menahan suku bunga karena inflasi dinilai masih sesuai target bank sentral.

Namun, ia mengingatkan kenaikan harga BBM bersubsidi dapat memicu percepatan kenaikan BI-Rate untuk mengantisipasi lonjakan inflasi.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menyebut opsi menaikkan BI-Rate memang logis untuk menjaga kepercayaan pasar, tetapi berisiko menekan kredit, konsumsi, dan sektor riil.

“Langkah ini lebih realistis di tengah kondisi ekonomi domestik yang belum cukup kuat menahan dampak kenaikan bunga lebih agresif,” ungkap Rizal terkait peluang BI mempertahankan suku bunga sambil memperkuat intervensi pasar.

Penguatan Rupiah Dinilai Bisa Lewat Intervensi Moneter

Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai kenaikan BI-Rate belum diperlukan karena berpotensi membebani sektor riil dan dunia usaha.

Menurutnya, penguatan rupiah masih bisa dilakukan melalui intervensi moneter agresif, penguatan devisa hasil ekspor, serta pengendalian arus modal keluar.

Myrdal mengatakan tekanan terhadap rupiah saat ini juga dipengaruhi kebutuhan dolar AS untuk pembayaran dividen ke luar negeri dan musim haji.

Ia menilai rupiah masih berpeluang menguat apabila surplus perdagangan meningkat dan arus keluar modal tetap terkendali.

Penulis :
Ahmad Yusuf