HOME  ⁄  Ekonomi

Tekanan Rupiah Memicu Sorotan terhadap Arah Kebijakan Bank Indonesia

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Tekanan Rupiah Memicu Sorotan terhadap Arah Kebijakan Bank Indonesia
Foto: (Sumber : Arsip foto - Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye.)

Pantau - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memicu perhatian terhadap arah kebijakan Bank Indonesia di tengah meningkatnya tekanan global dan tingginya kebutuhan impor domestik.

Rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah di Rp17.425 per dolar AS pada awal Mei 2026 sebelum kembali bergerak melemah hingga Rp17.700 per dolar AS pada 19 Mei 2026.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor Bank Indonesia sejak 2 Januari hingga 18 Mei 2026, pelemahan rupiah tercatat mencapai 5,8 persen secara year to date.

Pelemahan mata uang nasional dinilai berdampak langsung terhadap harga barang impor, biaya energi, bahan baku industri, hingga harga obat-obatan yang masih bergantung pada impor.

Faktor Global dan Domestik Tekan Rupiah

Tekanan terhadap rupiah disebut dipengaruhi dua faktor utama yakni kondisi eksternal dan domestik.

Dari sisi global, penguatan dolar AS akibat kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve serta ketidakpastian geopolitik mendorong arus modal keluar dari negara berkembang.

Kondisi tersebut membuat likuiditas valuta asing di dalam negeri menurun sehingga permintaan dolar meningkat dan nilai tukar rupiah melemah.

Sementara dari sisi domestik, tingginya kebutuhan impor energi, pangan, dan bahan baku industri membuat permintaan dolar AS terus meningkat.

Selain itu, struktur ekspor Indonesia yang masih didominasi komoditas mentah dinilai membuat penerimaan devisa rentan terhadap fluktuasi harga global.

Stabilitas Rupiah Dinilai Perlu Sinergi Kebijakan

Artikel telaah ANTARA menyebut stabilitas rupiah tidak hanya menjadi tanggung jawab Bank Indonesia, tetapi membutuhkan sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil.

Pemikiran Fiscal Theory of the Price Level atau FTPL disebut menjelaskan bahwa stabilitas harga dan nilai tukar dipengaruhi kondisi fiskal pemerintah saat ini maupun masa depan.

Apabila belanja pemerintah tidak diimbangi penerimaan negara yang memadai, dampaknya dapat memicu tekanan terhadap tingkat harga dan nilai tukar.

Meski neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus dalam beberapa tahun terakhir, neraca transaksi berjalan tetap berada dalam kondisi defisit.

Karena itu, penguatan fondasi ekonomi nasional dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas rupiah dalam jangka panjang.

Salah satu langkah yang disorot yakni memperkuat ketahanan energi domestik agar kebutuhan impor energi dan penggunaan dolar AS dapat ditekan.

Penulis :
Aditya Yohan