
Pantau - Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmi Radhi menilai kebijakan insentif kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) berbasis nikel menjadi momentum penting untuk memperkuat industri baterai nasional dan memperdalam hilirisasi mineral di Indonesia.
Fahmi mengatakan kebijakan tersebut dapat mendorong pengembangan industri kendaraan listrik nasional agar lebih terintegrasi dengan sumber daya domestik.
"Kalau dilihat sekarang pemerintah lebih selektif," ujar Fahmi di Jakarta, Selasa.
Ia mengungkapkan, "Untuk pemberian insentif pada kendaraan berbasis nikel saya kira bagus, karena kita punya produksi nikel sehingga bisa mendorong hilirisasi menjadi bagian dari ekosistem kendaraan listrik nasional."
Menurut dia, kebijakan yang membedakan kendaraan berbasis nikel dan non-nikel dinilai lebih tepat sasaran dibandingkan kebijakan sebelumnya, termasuk dengan mulai berkurangnya insentif kendaraan listrik impor utuh atau completely built up (CBU).
Pasar Kendaraan Listrik Indonesia Terus Tumbuh
Fahmi menilai kebijakan insentif tersebut relevan dengan pertumbuhan pasar kendaraan listrik di Indonesia yang terus meningkat dalam dua tahun terakhir.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) mencapai 56.204 unit pada 2024.
Jumlah tersebut meningkat menjadi 114.413 unit sepanjang 2025.
Namun, pertumbuhan pasar kendaraan listrik nasional masih didominasi teknologi baterai lithium iron phosphate (LFP) yang bahan bakunya belum diproduksi di dalam negeri.
Kendaraan Berbasis LFP Masih Dominasi Pasar
Data wholesales Gaikindo menunjukkan penjualan EV berbasis LFP mencapai 46.814 unit atau 83,3 persen dari total pasar pada 2024.
Sementara kendaraan listrik berbasis nickel-manganese-cobalt (NMC) hanya mencapai 9.390 unit atau 16,7 persen.
Pada 2025, dominasi kendaraan berbasis LFP mulai menurun meski masih menguasai pasar dengan penjualan 88.344 unit atau 77,2 persen.
Di sisi lain, kendaraan berbasis NMC meningkat menjadi 26.069 unit atau 22,8 persen sepanjang 2025.
Fahmi menilai tren tersebut menunjukkan peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat industri baterai berbasis nikel melalui kebijakan insentif yang lebih terarah.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





