
Pantau - Apkasindo menyatakan dukungan terhadap kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sekaligus meminta pemerintah segera menstabilkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang tengah tertekan.
Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat ME Manurung menegaskan dukungan petani sawit terhadap pembentukan PT DSI karena dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia.
Ia juga meminta pemerintah segera memberikan penjelasan rinci terkait mekanisme DSI agar tidak menimbulkan spekulasi pasar yang berdampak pada petani.
Apkasindo menilai kejelasan implementasi kebijakan harus dipercepat agar harga TBS tidak terus melemah akibat ketidakpastian informasi di lapangan.
Dukungan Apkasindo dan Mekanisme DSI
Gulat ME Manurung menyebut DSI berpotensi menjadi instrumen penguatan tata kelola sawit nasional dan meningkatkan posisi tawar Indonesia di pasar global.
Ia menjelaskan bahwa DSI dapat berfungsi sebagai pengarah atau pengendali tata niaga sawit Indonesia agar lebih terkoordinasi.
Implementasi penuh kebijakan ekspor satu pintu melalui DSI diketahui baru akan berlaku pada Januari 2027.
Tekanan Harga TBS dan Respons Pemerintah
Gulat menyampaikan harga TBS petani swadaya saat ini berada di kisaran Rp1.800 hingga Rp2.200 per kilogram.
Harga tersebut disebut berada di bawah harga pokok produksi sekitar Rp2.000 per kilogram sehingga banyak petani mengalami kerugian.
Ia membedakan kondisi petani swadaya dengan petani plasma yang masih menerima harga sekitar Rp3.600 per kilogram.
Sekitar 93 persen kebun sawit rakyat disebut dikelola oleh petani swadaya sehingga dampak penurunan harga bersifat luas.
Gulat juga menegaskan bahwa penurunan harga TBS bukan disebabkan pelemahan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) global.
Ia menyebut harga CPO global justru menguat dan setara sekitar Rp18.000 per kilogram.
Menurutnya, harga TBS domestik seharusnya berada di sekitar Rp15.800 per kilogram, namun saat ini hanya sekitar Rp11.000 per kilogram.
Ia menilai ketidakwajaran harga terjadi akibat kepanikan dan spekulasi pasar setelah pengumuman kebijakan ekspor satu pintu.
Apkasindo mencatat penurunan harga mulai terjadi beberapa jam setelah pengumuman kebijakan tersebut disampaikan ke publik.
Organisasi tersebut menilai faktor psikologis pasar menjadi pemicu utama tekanan harga di tingkat petani.
Apkasindo mengapresiasi langkah Wakil Menteri Pertanian Sudaryono yang mempertemukan petani, pengusaha, dan Satgas Pangan Polri untuk membahas stabilisasi harga TBS.
Mereka juga mendukung pengawasan Satgas Pangan Polri terhadap pabrik kelapa sawit yang membeli TBS di bawah harga wajar.
Apkasindo menegaskan tidak ada alasan bagi pelaku usaha untuk menekan harga pembelian karena kondisi pasar global sedang menguat.
Dalam pertemuan pemerintah disepakati bahwa penurunan harga dipengaruhi faktor psikologis akibat kebijakan ekspor satu pintu.
Disepakati pula bahwa PT Danantara Sumberdaya Indonesia hanya berperan sebagai pengelola dan tidak mengambil keuntungan dari transaksi ekspor.
Aktivitas ekspor sawit disebut tetap berjalan normal selama masa transisi kebijakan berlangsung.
Pemerintah berharap kejelasan kebijakan dapat mengembalikan stabilitas harga TBS sesuai mekanisme pasar dan harga acuan CPO di masing-masing wilayah.
- Penulis :
- Shila Glorya





