
Pantau - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan industri perhiasan nasional masih memiliki potensi pasar yang kuat meski tren kenaikan harga logam mulia mendorong masyarakat beralih berinvestasi ke emas batangan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan perhiasan tetap memiliki daya tarik karena tidak hanya berfungsi sebagai instrumen investasi, tetapi juga sebagai aksesori fesyen dan barang koleksi yang bernilai.
“Tren lonjakan harga logam mulia memang menggiurkan sebagai aset investasi. Namun, jika dilihat lebih luas, sampai kapan pun masyarakat akan tetap membeli perhiasan emas, perak, batu mulia, dan batu permata karena memiliki dua fungsi yaitu sebagai investasi dan aksesori yang bisa dipakai dan dikoleksi,” ungkap Agus.
Kontribusi Ekspor Masih Tumbuh Signifikan
Agus mengungkapkan data World Gold Council menunjukkan permintaan emas batangan dunia meningkat menjadi 1.402 ton pada 2025 atau naik 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1.208 ton.
Di sisi lain, konsumsi perhiasan emas di Indonesia turun 27 persen dari 22,8 ton pada 2024 menjadi 16,6 ton pada 2025.
Meski demikian, menurut Agus, penurunan konsumsi tersebut belum mengurangi kontribusi industri perhiasan terhadap perekonomian nasional.
“Industri perhiasan masih memberikan kontribusi yang besar bagi neraca perdagangan Indonesia, terlihat dari nilai ekspor kumulatif barang perhiasan dan barang berharga yang tumbuh signifikan 64,72 persen pada 2025. Nilainya naik dari 5,5 miliar dolar AS pada 2024 menjadi 9,1 miliar dolar AS pada 2025,” ujarnya.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengatakan mayoritas pelaku industri kecil dan menengah perhiasan tetap fokus memproduksi perhiasan karena pasar domestik dan ekspor masih menjanjikan.
Berdasarkan data BPS dan SIINas, saat ini terdapat 539 unit usaha industri perhiasan di Indonesia yang terdiri atas 49 industri besar, 79 industri menengah, dan 411 industri kecil dengan total penyerapan tenaga kerja mencapai 21.116 orang.
Kreativitas Jadi Kekuatan Industri Perhiasan
Reni menilai daya saing industri perhiasan Indonesia terletak pada kreativitas desain serta identitas budaya lokal yang menjadi daya tarik di pasar global.
Pelaku usaha juga dinilai memiliki kemampuan berinovasi menggunakan berbagai material seperti emas, perak, hingga mineral lainnya sesuai kebutuhan pasar.
Direktur Industri Aneka Ditjen IKMA Reny Meilany menyebut masyarakat masih memiliki banyak pilihan untuk berinvestasi melalui emas perhiasan dengan kadar dan gramasi yang beragam.
“Bagi konsumen lokal, emas perhiasan dengan karat dan gramasi kecil serta desain yang menarik tetap bisa menjadi simpanan favorit sekaligus sebagai bentuk investasi,” ujarnya.
Kemenperin terus memperkuat ekosistem industri perhiasan melalui koordinasi lintas kementerian, lembaga jasa bullion, lembaga pembiayaan, serta asosiasi industri.
Pemerintah juga memfasilitasi promosi, pameran, bimbingan teknis, workshop ekspor, dan program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) bagi pelaku industri kecil dan menengah perhiasan.
Pelaku Industri Waspadai Risiko Bisnis Logam Mulia
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Perhiasan Indonesia Iskandar Husin mengatakan tren investasi logam mulia memang mendorong sebagian perusahaan besar menyeimbangkan portofolio bisnis antara produk perhiasan dan produk investasi.
Namun, menurutnya, bisnis logam mulia membutuhkan modal besar serta pengelolaan risiko yang matang.
Direktur Utama PT Untung Bersama Sejahtera (UBS) Eddy Yahya menegaskan tidak semua pelaku industri siap memasuki bisnis logam mulia karena memerlukan kekuatan merek dan jaminan keamanan produk.
“Pengusaha tidak bisa sembarangan melakukan perluasan usaha. Harga bahan baku berubah hampir setiap hari, sementara itu konsumen cenderung memilih produk dengan kadar emas atau gramasi lebih ringan agar lebih efisien,” katanya.
Akademisi dari Program Studi Kriya Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Alvi Lufiani, menilai pergeseran tren konsumsi dari perhiasan emas ke logam mulia menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi industri untuk beradaptasi dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang.
- Penulis :
- Aditya Yohan





