HOME  ⁄  Ekonomi

Bappenas Dorong Biodiversity Credit sebagai Instrumen Pembiayaan Konservasi dan Ekonomi Berkelanjutan di Indonesia

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Bappenas Dorong Biodiversity Credit sebagai Instrumen Pembiayaan Konservasi dan Ekonomi Berkelanjutan di Indonesia
Foto: Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A. A. Teguh Sambodo dalam acara Biodiversity Credit Policy Dialogue: Indonesia–Australia di Jakarta, Selasa (19/5/2026). (sumber: Bappenas)

Pantau - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mendorong pengembangan biodiversity credit sebagai instrumen pembiayaan inovatif untuk mendukung konservasi keanekaragaman hayati sekaligus menutup kesenjangan pendanaan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Kesenjangan Pendanaan Keanekaragaman Hayati

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A. A. Teguh Sambodo, menyampaikan hal tersebut dalam Biodiversity Credit Policy Dialogue Indonesia–Australia di Jakarta pada Selasa 19 Mei 2026.

Ia mengungkapkan bahwa kebutuhan pendanaan pengelolaan keanekaragaman hayati Indonesia mencapai Rp118,5 hingga Rp163,8 triliun per tahun berdasarkan hasil Biodiversity Expenditure Review.

Sementara itu, kapasitas pembiayaan yang tersedia saat ini hanya sekitar Rp21,6 triliun per tahun.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan pendanaan sekitar 82 hingga 87 persen dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati nasional.

Pemerintah menilai bahwa keanekaragaman hayati bukan hanya aset ekologis, tetapi juga fondasi penting pembangunan nasional.

Keanekaragaman hayati disebut berperan dalam mendukung ketahanan pangan serta membuka peluang ekonomi hijau dan ekonomi biru yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Strategi *Biodiversity Credit* dan Skema Pembiayaan

Bappenas mendorong penggunaan biodiversity credit sebagai solusi pembiayaan inovatif untuk mendukung konservasi sekaligus pembangunan nasional.

Instrumen ini merepresentasikan hasil positif keanekaragaman hayati yang terukur, terverifikasi, dan berbasis bukti, serta dirancang untuk memberikan manfaat tambahan di luar kondisi business as usual.

Pengembangan kebijakan ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025–2029 serta Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan 2025–2045.

Strategi tersebut mencakup penguatan instrumen berbasis pasar, perluasan peran dunia usaha melalui skema blended finance, serta kemitraan pemerintah dan sektor swasta.

Terdapat tiga jenis biodiversity credit yang dikembangkan, yaitu uplift melalui restorasi ekologi aktif, conserve dengan menjaga ekosistem tetap utuh, dan avoided loss melalui pencegahan penurunan keanekaragaman hayati.

Bappenas bersama kementerian dan lembaga terkait dengan dukungan UNDP Biodiversity Finance Initiative atau BIOFIN juga menginisiasi tiga proyek percontohan.

Selain itu, disusun white paper biodiversity credit yang diharapkan menjadi rekomendasi kebijakan untuk pengembangan pasar yang kredibel dan berkelanjutan.

Penulis :
Leon Weldrick