
Pantau - Gubernur Bali Wayan Koster mencatat bahwa devisa pariwisata Bali sepanjang tahun 2025 mencapai Rp176 triliun dan menyumbang sekitar 55 persen dari total devisa pariwisata nasional yang sebesar Rp320 triliun.
Kontribusi Wisatawan Mancanegara dan Perhitungan Devisa
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Bali & Beyond Travel Fair 2026 di Kabupaten Badung pada Sabtu 30 Mei 2026.
Data menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali sepanjang 2025 mencapai 7,05 juta orang.
Angka tersebut setara dengan sekitar 45,8 persen dari total 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara di Bali tercatat sekitar 1.522,44 dolar Amerika Serikat.
Gubernur Koster menjelaskan bahwa jika dikalikan dengan jumlah kunjungan dan dikonversi menggunakan kurs Rp16.500 per dolar AS, maka diperoleh estimasi devisa sebesar Rp176 triliun.
Ia mengungkapkan, "Devisa pariwisata Bali mencapai 176 triliun rupiah," dan menyebut kontribusi tersebut berasal dari belanja wisatawan di sektor hotel, transportasi, restoran, serta usaha mikro kecil dan menengah.
Dampak Ekonomi dan Tantangan Sektor Pariwisata
Pariwisata Bali disebut berkontribusi sekitar 66 persen terhadap perekonomian daerah.
Pertumbuhan ekonomi Bali pada 2025 tercatat sebesar 5,82 persen dengan pendapatan per kapita masyarakat mencapai sekitar Rp72 juta.
Tingkat kemiskinan di Bali berada pada angka 1,42 persen dan tercatat sebagai yang terendah di Indonesia.
Tingkat pengangguran juga dilaporkan hanya sekitar 1,45 persen dan termasuk yang terendah secara nasional.
Gubernur Koster menegaskan bahwa sektor pariwisata memberikan efek ekonomi yang merata ke berbagai sektor masyarakat.
Ia menyampaikan, "Pariwisata memberikan efek ekonomi yang menyebar ke banyak pelaku usaha," ungkapnya, merujuk pada keterlibatan hotel, restoran, travel, petani, nelayan, dan UMKM.
Pemerintah Provinsi Bali menyebut sektor ini juga berdampak pada pertanian dan perikanan melalui penggunaan produk lokal seperti buah, sayur, telur, dan beras oleh industri perhotelan.
Meski demikian, pemerintah daerah menghadapi tantangan seperti sampah, infrastruktur, dan kemacetan yang terus ditangani untuk menjaga keberlanjutan pariwisata.
Bali juga disebut berada pada posisi kelima pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia serta menjadi satu-satunya provinsi tanpa kekayaan alam pertambangan.
- Penulis :
- Arian Mesa





