HOME  ⁄  Ekonomi

Subsidi Energi dan Bansos Dinilai Jaga Daya Beli Masyarakat di Tengah Pelemahan Rupiah

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Subsidi Energi dan Bansos Dinilai Jaga Daya Beli Masyarakat di Tengah Pelemahan Rupiah
Foto: (Sumber: Kiri ke kanan: Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM) M. Qodari, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, dan COO Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria dalam jumpa pers terkait persiapan operasional PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) di Wisma Danantara, Jakarta, Minggu (31/5/2026). (ANTARA/Uyu Septiyati Liman).)

Pantau - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menyatakan berbagai subsidi energi dan program bantuan sosial yang dijalankan pemerintah membantu menjaga kondisi keuangan masyarakat di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Menurut Qodari, pemerintah telah menyalurkan subsidi dalam jumlah besar terutama pada sektor energi, bahan bakar minyak (BBM), dan listrik.

Selain itu, pemerintah juga menjalankan berbagai program bantuan bagi keluarga berpenghasilan rendah di bidang pendidikan dan kesehatan.

Qodari menilai berbagai bentuk subsidi dan bantuan tersebut berperan penting dalam menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah.

Qodari menjelaskan bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling merasakan manfaat dari berbagai program dukungan pemerintah.

Menurutnya, keberadaan subsidi energi dan bantuan sosial menjadi salah satu faktor penting yang membantu masyarakat menghadapi tekanan ekonomi saat ini.

Pemerintah terus menyalurkan berbagai bentuk bantuan guna menjaga stabilitas kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Langkah tersebut juga diharapkan dapat membantu mempertahankan tingkat konsumsi rumah tangga yang menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menembus level Rp17.800 masih sesuai dengan perhitungan pemerintah.

Purbaya menegaskan kondisi tersebut belum mengganggu anggaran negara karena telah diperhitungkan dalam perencanaan fiskal sebelumnya.

Ia menjelaskan pemerintah telah menghitung kemungkinan depresiasi rupiah hingga mendekati level saat ini sehingga kondisi fiskal tetap aman.

Menurut Purbaya, penguatan nilai tukar pada akhirnya akan ditopang oleh fundamental ekonomi yang kuat.

Pemerintah saat ini berfokus menjaga pertumbuhan ekonomi domestik dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

Purbaya juga menyatakan pelemahan rupiah sejauh ini belum menimbulkan dampak yang menghambat aktivitas ekonomi dalam negeri.

Pemerintah meyakini prospek ekonomi Indonesia tetap kuat dan stabil meskipun nilai tukar rupiah sedang mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat.

Penulis :
Gerry Eka