
Pantau - Pelaksanaan ibadah kurban di Indonesia tidak hanya dipahami sebagai ritual keagamaan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga berkembang menjadi tradisi sosial, sarana berbagi, penguat solidaritas, dan penggerak ekonomi masyarakat.
Artikel yang membahas hubungan agama dan tradisi itu menyoroti pandangan Nurcholish Madjid bahwa agama dan tradisi merupakan dua hal yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat.
Penulis menjelaskan bahwa agama selalu berinteraksi dengan budaya lokal sehingga melahirkan ekspresi keagamaan yang berbeda di setiap wilayah.
Penjelasan tersebut diperkuat dengan kajian antropolog Amerika Clifford Geertz yang menyoroti perbedaan dan persamaan wajah Islam di Maroko dan Indonesia sebagai hasil interaksi antara ajaran agama dan budaya setempat.
Kurban dilaksanakan melalui penyembelihan hewan seperti kambing, domba, sapi, kerbau, dan unta pada Hari Raya Idul Adha serta tiga hari tasyrik setelahnya sesuai ketentuan syariat Islam.
Di sejumlah daerah seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Jawa Timur, perayaan Idul Adha bahkan disebut berlangsung lebih meriah dibandingkan Idul Fitri.
Setelah proses penyembelihan, daging kurban dibagikan kepada masyarakat dan fakir miskin sebelum sebagian lainnya dinikmati oleh pihak yang berkurban.
Penulis menyoroti tradisi bakar sate bersama yang kerap dilakukan keluarga, lingkungan rukun tetangga, hingga komunitas masyarakat pada malam hari setelah pembagian daging kurban.
Tradisi tersebut disebut bukan bagian langsung dari ajaran Islam, namun telah menjadi salah satu wajah Islam Nusantara yang lahir dari pertemuan agama dan budaya lokal.
Pola pengadaan hewan kurban di Indonesia juga mengalami perubahan dari yang semula dilakukan secara individual menjadi lebih banyak dilakukan secara kolektif oleh sekolah, organisasi, dan komunitas.
Sekolah misalnya menghimpun dana dari para siswa untuk membeli hewan kurban yang kemudian disembelih dan dibagikan kepada masyarakat sekitar.
Menurut penulis, praktik tersebut tidak hanya bertujuan menjalankan ibadah, tetapi juga menjadi sarana pendidikan sosial dan pembelajaran berbagi bagi para siswa.
Momentum kurban juga berkembang menjadi program bantuan sosial yang dijalankan pemerintah daerah, kementerian, perguruan tinggi, lembaga negara, dan berbagai organisasi.
Fenomena tersebut melahirkan istilah yang dikenal masyarakat seperti kurban bupati, kurban gubernur, kurban presiden, kurban menteri, hingga kurban rektor.
Permintaan hewan kurban dari berbagai institusi turut mendorong peternak meningkatkan kualitas ternak untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Aktivitas ekonomi kurban juga melibatkan banyak pihak mulai dari peternak, pekerja peternakan, penyuluh, dokter hewan, produsen pakan, hingga produsen obat dan vitamin ternak.
Penulis mengungkapkan, "Biarlah secara fiqih setiap pemimpin puncak berkurban cukup seekor hewan qurban, tetapi secara kelembagaan memberikan bantuan sosial lebih banyak."
Artikel tersebut menegaskan bahwa pelaksanaan kurban di Indonesia mencerminkan perpaduan antara ajaran agama dan tradisi lokal yang memperkuat solidaritas sosial sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat.
- Penulis :
- Gerry Eka





