HOME  ⁄  Ekonomi

Inflasi Jawa Timur Mei 2026 Capai 1,43 Persen, Harga Pangan dan Angkutan Udara Jadi Pemicu Utama

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Inflasi Jawa Timur Mei 2026 Capai 1,43 Persen, Harga Pangan dan Angkutan Udara Jadi Pemicu Utama
Foto: Plt. Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati dalam konferensi pers di Surabaya, Jawa Timur, Selasa 2/6/2026 (sumber: ANTARA/Astrid Faidlatul Habibah)

Pantau - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 1,43 persen pada Mei 2026 dibandingkan April 2026 (month-to-month/mtm) yang didorong kenaikan harga angkutan udara dan sejumlah komoditas pangan.

Pelaksana Tugas Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati mengatakan, "Terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,06 pada Mei 2025 menjadi 111,83 pada Mei 2026."

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Jawa Timur pada Mei 2026 terhadap Mei 2025 tercatat sebesar 3,49 persen.

Sementara itu, inflasi tahun kalender atau Mei 2026 terhadap Desember 2025 tercatat sebesar 1,43 persen.

Harga Pangan dan Biaya Impor Tekan Inflasi

Salah satu faktor yang mendorong inflasi adalah meningkatnya biaya bahan baku industri yang berasal dari impor.

Kenaikan biaya bahan baku tersebut berdampak pada naiknya harga berbagai produk berbahan plastik.

Kondisi tersebut kemudian memberikan tekanan harga pada sejumlah komoditas, termasuk peralatan elektronik dan air minum kemasan.

Selain itu, dinamika harga pangan juga menjadi pemicu utama inflasi pada Mei 2026.

Terbatasnya pasokan sejumlah komoditas pangan menyebabkan kenaikan harga di pasaran.

Komoditas yang pasokannya terbatas antara lain beras, cabai, dan bawang.

Keterbatasan pasokan tersebut mendorong terjadinya tekanan harga selama Mei 2026.

Di sisi lain, Herum mengatakan, "Di sisi lain, pasokan daging dan telur ayam ras cenderung tercukupi walaupun permintaan menurun dibandingkan bulan sebelumnya."

Angkutan Udara dan Cabai Merah Jadi Penyumbang Terbesar

Secara rinci, angkutan udara menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar dengan inflasi sebesar 5,04 persen dan andil 0,07 persen.

Minyak goreng mengalami inflasi sebesar 3,96 persen dengan andil 0,05 persen.

Bawang merah mengalami inflasi sebesar 11,5 persen dengan andil 0,05 persen.

Cabai rawit mengalami inflasi sebesar 10,02 persen dengan andil 0,04 persen.

Cabai merah mencatat inflasi tertinggi di antara komoditas pangan utama sebesar 31,93 persen dengan andil 0,04 persen.

Beras mengalami inflasi sebesar 0,67 persen dengan andil 0,03 persen.

Laptop atau notebook mengalami inflasi sebesar 2,98 persen dengan andil 0,03 persen.

Bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi sebesar 1,47 persen dengan andil 0,02 persen.

Air kemasan mengalami inflasi sebesar 1,3 persen dengan andil 0,02 persen.

Sejumlah komoditas juga mencatat deflasi pada Mei 2026.

Emas perhiasan mengalami deflasi sebesar 3,09 persen.

Telur ayam ras mengalami deflasi sebesar 6,16 persen.

Daging ayam ras mengalami deflasi sebesar 2,4 persen.

Bawang putih mengalami deflasi sebesar 4,58 persen.

Dari 11 kabupaten dan kota sampel penghitungan inflasi di Jawa Timur, seluruhnya mengalami inflasi pada Mei 2026.

Kota Surabaya mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,37 persen.

Kota Madiun dan Kota Kediri masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,35 persen.

Kabupaten Bojonegoro mengalami inflasi sebesar 0,29 persen.

Kabupaten Jember dan Kabupaten Tulungagung masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,19 persen.

Kota Malang dan Kabupaten Banyuwangi masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,18 persen.

Kabupaten Gresik mengalami inflasi sebesar 0,17 persen.

Kabupaten Sumenep mengalami inflasi sebesar 0,16 persen.

Kota Probolinggo mencatat inflasi terendah sebesar 0,03 persen.

Data tersebut menunjukkan kenaikan harga pangan dan transportasi masih menjadi faktor utama yang mendorong inflasi di Jawa Timur selama Mei 2026.

Penulis :
Leon Weldrick