
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 255,71 poin atau 4,13 persen ke level 5.939,71 pada perdagangan Rabu siang, dipicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta tekanan dari saham-saham konglomerasi berkapitalisasi besar.
Pelemahan Rupiah Tekan Sentimen Investor
Analis saham MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan pelemahan kurs rupiah menjadi faktor utama yang mendorong koreksi tajam di pasar saham.
"Kami perkirakan koreksi yang terjadi di JCI (Jakarta Composite Index) saat ini disebabkan oleh adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang saat ini sudah mencapai Rp17.928 per dolar AS," kata Herditya Wicaksana.
Pada perdagangan pukul 11.10 WIB, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp17.928,50 per dolar AS.
Menurut Herditya, kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi dan prospek investasi jangka pendek.
Saham Konglomerasi dan Tren Downtrend Perburuk IHSG
Selain tekanan dari nilai tukar, IHSG juga terbebani oleh pelemahan saham-saham konglomerasi yang sebelumnya mencatat kenaikan signifikan dalam dua hari terakhir.
"Di sisi lain, pergerakan IHSG dibebani oleh emiten-emiten konglomerasi yang selama dua hari belakangan ini bergerak menguat signifikan, bahkan mengalami auto reject atas (ARA)," ungkapnya.
Herditya menilai secara teknikal pergerakan IHSG masih berada dalam tren penurunan dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat.
"Dari sisi teknikal, pergerakan JCI masih berada di fase downtrend-nya, dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda pembalikan arah yang valid," ujarnya.
Sementara itu, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat dolar AS.
"Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia, WTI di 94,58 (dolar AS per barel), kemudian Brent crude oil pun mengalami penguatan di 96,72," kata Ibrahim.
Kenaikan harga minyak dunia dinilai meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi global dan tekanan ekonomi yang berdampak pada pergerakan aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





