HOME  ⁄  Ekonomi

TPOMI 2026 Disiapkan untuk Dorong Transformasi Teknologi dan Hilirisasi Industri Sawit Menuju Indonesia Emas 2045

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

TPOMI 2026 Disiapkan untuk Dorong Transformasi Teknologi dan Hilirisasi Industri Sawit Menuju Indonesia Emas 2045
Foto: Para narasumber memberikan pemaparan terkait agenda gelaran 4th TPOMI (Technology & Talent Palm Oil Mill Indonesia) 2026 di Jakarta, Selasa (2/6/2026).TPOMI 2026 akan digelar 8 -10 Juli 2026 (sumber: Panitia TPOMI 2026)

Pantau - Pameran dan konferensi 4th Technology & Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026 akan digelar pada 8–10 Juli 2026 di Bandung sebagai wadah bagi pelaku industri untuk mengantisipasi berbagai tantangan pabrik kelapa sawit Indonesia, mulai dari efisiensi operasional, dekarbonisasi, pengurangan limbah, hingga penguatan daya saing industri secara berkelanjutan.

Posma Sinurat selaku Ketua Bidang Pabrik Kelapa Sawit P3PI mengatakan tantangan pabrik kelapa sawit saat ini tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan kapasitas produksi.

Ia menegaskan, "Prinsipnya teknologi harus aplikatif, terukur dan memberi dampak nyata terhadap efisiensi, produktivitas, K3 dan keberlanjutan pabrik."

TPOMI 2026 mengusung tema "Hilirisasi Komoditi Perkebunan Menuju Sawit Pilar Indonesia Emas 2045" dengan fokus pada pembaruan teknologi industri sawit, pengembangan talenta dan kompetensi sumber daya manusia, serta penguatan hilirisasi produk sawit.

Penerapan teknologi yang didorong dalam forum tersebut diarahkan untuk menurunkan losses, mengurangi downtime, meningkatkan efisiensi energi, serta mempercepat dan meningkatkan akurasi pengambilan keputusan.

Teknologi yang menjadi fokus pembahasan meliputi Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), otomatisasi industri, predictive maintenance, dan teknologi keberlanjutan.

Fokus Pengembangan Teknologi dan SDM

Posma menyebut teknologi canggih tidak akan optimal tanpa dukungan sumber daya manusia yang kompeten.

Menurutnya, pengembangan teknologi harus berjalan seiring dengan peningkatan keterampilan tenaga kerja agar mampu mengoperasikan sistem modern secara disiplin dan akurat.

TPOMI menjadi forum yang mempertemukan praktisi industri, akademisi, pelaku usaha, pemerintah, vendor teknologi, media, dan mahasiswa untuk membahas perkembangan sektor sawit nasional.

Agenda yang dibahas mencakup teknologi pengolahan sawit ramah lingkungan, efisiensi rantai pasok, tantangan sektor hulu perkebunan, hingga strategi hilirisasi produk sawit.

Teknologi Dry Process Jadi Sorotan Dekarbonisasi

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian dalam TPOMI 2026 adalah peralihan dari wet process menuju dry process pada pengolahan sawit.

Direktur Industri Kemurgi, Oleokimia, dan Pakan Kementerian Perindustrian, Krisna Septiningrum menjelaskan bahwa dry process beroperasi pada suhu lebih rendah dengan memanfaatkan proses enzimatis serta tambahan mineral tertentu.

Saat ini mayoritas pabrik kelapa sawit Indonesia masih menggunakan wet process yang membutuhkan konsumsi steam tinggi, menghasilkan emisi karbon lebih besar, dan memproduksi limbah cair Palm Oil Mill Effluent (POME) dalam jumlah besar.

Melalui dry process, produk yang dihasilkan dapat berubah dari Crude Palm Oil (CPO) menjadi Degummed Palm Mesocarp Oil (DPMO) atau Palm Mesocarp Oil (PMO).

Teknologi tersebut dinilai lebih ramah lingkungan karena mampu menurunkan emisi karbon sekitar 7 persen dibanding proses basah, mengurangi limbah cair secara drastis, serta tidak memerlukan penggunaan steam dalam jumlah besar.

Selain itu, kandungan Vitamin A dan Vitamin E pada produk yang dihasilkan lebih terjaga sehingga berpotensi menjadi bahan baku industri suplemen dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor bahan baku softgel.

Desain pabrik dry process juga bersifat modular dengan kapasitas mesin sekitar 5–10 ton per jam, tidak membutuhkan sumber air besar, dan dapat dibangun lebih dekat dengan lokasi perkebunan.

Proyek percontohan teknologi tersebut saat ini telah berjalan di Yogyakarta dan Sukabumi.

Ekspansi berikutnya direncanakan di Labuhan Batu apabila penandatanganan nota kesepahaman selesai pada tahun ini.

Pembangunan fisik fasilitas baru ditargetkan dimulai pada 2027.

Untuk pembangunan miniplant berkapasitas 2 ton per jam, estimasi investasi awal atau capital expenditure (capex) mencapai sekitar Rp13 miliar di luar biaya operasional atau operational expenditure (opex).

Teknologi dry process dipandang sebagai salah satu inovasi penting untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi emisi, mendukung hilirisasi, dan memperkuat daya saing industri sawit Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Penulis :
Shila Glorya