
Pantau - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendukung percepatan penerapan digitalisasi industri furnitur guna meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan memperkuat daya saing ekspor di tengah meningkatnya pemanfaatan teknologi pada sektor pengolahan kayu dan mebel nasional.
Staf Ahli Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kemenperin, Andi Rizaldi, menyatakan digitalisasi menjadi salah satu strategi penting untuk memperkuat daya saing industri furnitur Indonesia di pasar global.
"Apa yang dilakukan oleh Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia atau HIMKI kami dukung. Dengan digitalisasi itu dapat membantu proses produksi, mengurangi cacat, serta meningkatkan produktivitas," ungkap Andi Rizaldi.
Digitalisasi Perkuat Rantai Nilai Industri Furnitur
Digitalisasi furnitur merupakan integrasi teknologi digital dalam seluruh rantai bisnis mebel mulai dari desain produk, otomatisasi proses produksi, hingga pemasaran secara daring.
Penerapan digitalisasi memungkinkan proses pembuatan mebel menjadi lebih presisi, lebih efisien, dan lebih produktif.
Dukungan Kemenperin sejalan dengan tujuan penyelenggaraan Indo Wood Expo 2026 yang mempertemukan pelaku industri kehutanan, industri pengolahan kayu, industri furnitur, penyedia teknologi, desainer, investor, serta pembeli internasional.
Pameran tersebut bertujuan memperkuat rantai nilai industri hasil hutan Indonesia.
Kemenperin juga mengapresiasi penandatanganan nota kesepahaman antara HIMKI dan penyedia layanan digitalisasi Labamo.
Kerja sama HIMKI dan Labamo dinilai dapat mempercepat penerapan teknologi di sektor furnitur nasional.
"Saya salut dengan manufaktur furnitur ini. Dengan angka utilisasi 60 persen pun, angka ekspornya sudah mencapai 80 persen dari total produksi domestik mereka," kata Andi Rizaldi.
Saat ini tingkat utilisasi industri furnitur berada pada kisaran 60 persen.
Nilai ekspor mebel Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 1,9 miliar dolar AS dan berada di kisaran 1,8 miliar dolar AS pada 2025.
Sektor manufaktur secara keseluruhan masih menjadi kontributor utama ekspor nasional dengan kontribusi hampir 80 persen terhadap total ekspor Indonesia.
Peluang Ekspor dan Penguatan Teknologi
Andi Rizaldi menilai penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah dapat menjadi peluang bagi industri furnitur nasional untuk meningkatkan ekspor.
Peluang tersebut muncul karena sebagian besar produk furnitur Indonesia dipasarkan ke luar negeri.
"Karena 60 persen bahan bakunya bersumber dari lokal, sedangkan penjualannya 80 persen untuk pasar ekspor," jelas Andi Rizaldi.
Pemerintah juga tetap konsisten menjalankan kebijakan hilirisasi industri, salah satunya melalui larangan ekspor kayu bulat atau log.
Kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri dan mendorong pengolahan bahan baku di Indonesia.
Larangan ekspor kayu bulat turut mendorong investor asing membangun fasilitas produksi di Indonesia untuk memperoleh akses bahan baku dan memperkuat rantai pasok industri nasional.
Ketua Umum DPP HIMKI Abdul Sobur menyatakan penerapan teknologi manufaktur telah menjadi kebutuhan bagi industri furnitur nasional untuk meningkatkan efisiensi produksi dan memperkuat daya saing global.
"Barang yang unik tidak berarti harus menjadi mahal," tegas Abdul Sobur.
Menurut Abdul Sobur, produk furnitur Indonesia masih menghadapi tantangan berupa biaya produksi yang relatif lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara pesaing.
Meski demikian, furnitur Indonesia memiliki keunggulan dari sisi desain dan karakter produk.
Penggunaan teknologi dan mesin industri dinilai mampu mempercepat proses produksi secara signifikan, meningkatkan produktivitas, serta menekan biaya produksi.
"Rahasianya adalah teknologi," ujar Abdul Sobur.
- Penulis :
- Shila Glorya





